Mengapa Investasi Syariah ?

investasi syariah

investasi syariah

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa saat ini kondisi ekonomi dunia tengah melesu, meskipun demikian hal tersebut hendaknya tak membuat kita mengurungkan niat untuk berinvestasi sebagai simpanan di hari depan untuk keluarga tercinta, untuk mengembangkan modal, atau sebagai jaminan di hari tua. Investasi sesungguhnya bukanlah hal yang mustahil bila sebelumnya dilakukan perencanaan keuangan yang matang. Salah satu pilihan investasi yang dapat kita coba adalah investasi syariah. Berikut ini adalah ulasan mengenai instrumen-instrumen investasi dengan basis syariah di tanah air.

Baca Juga : Prinsip Dasar Investasi Syariah

Secara awam investasi syariah dapat dijelaskan sebagai investasi dengan aturan sebagaimana yang ditetapkan sesuai dengan hukum Islam. Secara prinsip ekonomi Islam, investasi hendaknya diupayakan tak mengandung unsur riba, gharar, dan maysir. Harapan terbesar dari investasi islami ini adalah penerapkan aturan investasi tanpa melanggar ketetapan agam. Secara umum terdapat 2 jenis investasi islami ini, yaitu:

Yang pertama adalah instrumen investasi perbankan dengan sistem syariah, dan kedua adalah instrumen investasi pasar modal dengan dasar syariah. Saat ini jumlah bank yang menyediakan fasilitas jasa perbankan syariah telah semakin bertambah. Prinsip dari perbankan syariah adalah tak mengandung riba. Perputaran uang dana nasabah pun terbatas pada bisnis-bisnis yang halal. Selain itu diterapkan pula prinsip mudharabat dan wadiah atau kemitraan dalam penyaluran dana oleh bank-bank syariah. Bank syariah memberlakukan prinsip bagi hasil dan bukannya bunga ketika mereka menyimpan dana nasabah melalui deposito atau tabungan.

Hasil investasi ini kemudian diperhitungkan sesuai dengan rasio bagi hasil antara nasabah dengan bank atau dalam istilah investasi syariah disebut sebagai nisbah. Pembagian hasil investasi dana masyarakat ini sesuai dengan nisbah yang telah disepakati antara pihak bank syariah dengan nasabah. Inilah sebabnya hasil investasi pada bank syariah tak bisa ditentukan dan ditetapkan jumlahnya di masa depan. Tetapi Anda tak perlu khawatir dulu akan ketidakpastian hasil investasi ini karena bank syariah akan memberikan laporan pertanggungjawaban dan pengelolaan dana secara transparan tak berbeda dengan bank-bank konvensional.

Sebagai instrumen investasi syariah di pasar modal hadir elemen sukuk bagi masyarakat yang ingin berinvestasi sesuai dengan prinsip islami. Sukuk adalah instrumen yang ciri-cirinya sama dengan obligasi tetapi dengan menerapkan prinsip islami. Instrumen investasi ini diterbitkan oleh korporasi atau pemerintah dan disebut sebagai Surat Berharga Syariah Nasional (SBSN). Hasil dari penghimpunan dana ini merupakan bagi hasil sama seperti prinsip investasi islami lainnya. Pemerintah telah menerbitkan SR 001 atau Sukuk Ritel Perdana dengan imbal hasil sebesar 12% per tahun. Hal ini cukup menggembirakan karena pada umumnya suku bunga tabungan pada bank perlahan-lahan mengalami penurunan karena turunnya BI Rate oleh Bank Indonesia.

Sementara tentang reksadana syariah, sistem kerjanya adalah, investor mempercayakan dana yang dimilikinya kepada manajer investasi yang kemudian menyalurkan dana tersebut pada emiten tertentu. Sebagai bukti penyertaannya, investor memperoleh unit penyertaan dari reksadana syariah terkait. Manajer investasi hanya menanamkan dana investor pada emiten yang surat berharganya termasuk dalam kategori efek syariah. Investasi reksadana syariah ini disebut sebagai ikatan mudharabah bertingkat karena manajer investasi mengemban kepercayaan untuk menyalurkan modal hanya pada emiten yang sesuai dengan prinsip islami.

Jadi tak perlu khawatir untuk berinvestasi karena sudah tersedia banyak alternatif investasi syariah yang islami sehingga Anda tak perlu takut terlibat dengan penanaman modal yang mengandung riba, gharar, dan maysir. Sebaiknya investasi ini dimulai sedini mungkin agar manfaatnya di hari depan semakin besar. Selain itu investasi islami juga menjamin keuntungan yang tak kalah dengan produk investasi konvensional. Bisa saja bagi hasil yang ditawarkan kadang lebih tinggi dari suku bunga bank konvensional. Penentuan bagi hasil atau nisbah ini didasarkan oleh beberapa faktor seperti misalnya biaya operasional bank, prediksi pendapatan investasi, dan jenis produk simpanan.

Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya bahwa jumlah bagi hasil investasi syariah memang tidak tetap karena disesuaikan dengan profit investasi yang diperoleh pihak bank dalam jangka waktu tertentu. Inilah salah satu alasan yang membuat orang enggan menanamkan modal pada investasi islami ini. Seharusnya hal ini tak menjadi hal yang memicu keraguan karena seluruh pengelolaan dana akan dipublikasikan secara transparan dan juga diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah. Faktor halal dan haram akan menjadi prinsip utama dalam penyaluran dana juga kepastian bahwa alokasi modal tak bertentangan dengan hukum islam.

Produk Investasi Syariah

Berikut ini adalah beberapa jenis produk investasi syariah yang dapat menjadi alternatif pilihan bagi Anda.

1. Deposito

Pada deposito konvensional pembagian keuntungan diberikan dengan pemberian bunga dalam jumlah yang tetap hingga jatuh tempo dari jangka waktu deposito. Sementara pada investasi syariah atau deposito syariah keuntungan yang akan diperoleh nasabah tergantung kepada kinerja bank syariah dalam mengelola dana. Bila bisnis sedang berjalan baik maka nasabah akan memperoleh bagi hasil yang lebih, tetapi bila bisnis sedang tidak bagus tentu yang terjadi adalah sebaliknya.

Nilai nisbah atau bagi hasil sebelumnya telah disepakati dengan persentase, misalnya, saat menanamkan dana nasabah diberikan nisbah dengan perbandingan 60:40, dan 60% adalah profit bagi nasabah, sementara 40% adalah milik bank. Pedoman inilah yang digunakan untuk menghitung hasil nisbah nasabah pada bulan berikutnya. Nilai bagi hasil tersebut juga tergantung pada durasi waktu yang dipilih oleh nasabah. Nilai bagi hasil akan semakin besar bila jangka waktunya semakin lama. Contohnya, jangka waktu yang dipilih nasabah adalah satu bulan dengan rasio pembagian profit mencapai 50:50, tetapi bila jangka waktu investasi diperpanjang menjadi 12 bulan, nasabah bisa mendapatkan persentase keuntungan mencapai 55:45.

Artikel lain : Beda Deposito Syariah dengan Deposito Biasa

2. Saham

Di tahun 2011 MUI mengeluarkan fatwa tentang penerapan sistem syariah pada pasar modal sehingga pasar modal Indonesia pun meluncurkan produk saham syariah pada Indeks Saham Syariah Indonesia. Instrumen investasi syariah ini adalah surat berharga yang merupakan bukti penyertaan modal atas sebuah perusahaan dengan sistem nisbah atau bagi hasil. Saham ini juga harus diterbitkan oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak hanya pada bidang usaha yang dinyatakan halal. Saat ini sudah banyak saham-saham syariah yang menjadi bagian dari Jakarta Islaminc Index (JII).

Artikel Lain : Cara Membeli Saham Bagi Pemula

3. Asuransi Syariah

Asuransi syariah juga termasuk dalam produk investasi syariah yang ditawarkan kepada masyarakat. Apa sesungguhnya perbendaan asuransi konvensional dan syariah? Pada asuransi syariah, antara perusahaan asuransi dan nasabah berlaku transaksi jual beli. Artinya, premi yang telah disetorkan sepenuhnya adalah milik dari perusahaan asuransi tersebut. Sementara pada asuransi syariah, premi yang disetorkan oleh nasabah tetap merupakan milik nasabah tetapi dipercayakan kepada perusahaan untuk dikelola dalam suatu investasi. Kedua, dalam menyalurkan dana, pada asuransi konvensional faktor halal haram tidak menjadi konsentrasi utama, sementara pada asuransi syariah, tentu kedua faktor tersebut diutamakan.

Demikianlah beberapa hal yang perlu Anda ketahui tentang investasi syariah. Semoga bermanfaat!

Artikel Investasi Terkait :

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
"Analisa Teknikal Diupdate Antara Jam 12.00-15.00 WIB"
Dapatkan Pemberitahuan Update Langsung Ke Email Anda

Leave a Reply

Baca Juga Artikel Terkaitclose