Resiko Investasi

resiko investasi uang

investasi pasar uang

Selain bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saat ini orang sudah semakin banyak yang juga melakukan investasi untuk menjamin masa depan mereka atau untuk menambah pemasukan. Pada kenyataannya terdapat dua alternatif dalam berinvestasi yaitu investasi yang dilakukan sekali saja dan investasi periodik. Dalam menentukan pilihan investasi terbaik Anda tinggal menyesuaikannya dengan kondisi keuangan serta kebutuhan Anda. Inilah kedua jenis investasi tersebut.

Investasi skala periodik

Investasi yang dikerjakan secara periodik atau rutin artinya Anda melakukan investasi dengan jangka waktu tertentu, misalnya setahun sekali, enam bulan sekali, atau sebulan sekali. Ini adalah strategi yang paling tepat untuk mencapai target dana yang besar di masa depan nanti. Dengan demikian Anda tak perlu mempunyai sejumlah dana yang besar di saat ini tetapi cukup hanya dengan menyisihkan sebagian kecil dari pendapatan Anda kemudian menanamkannya pada sebuah produk investasi. Lambat laun Anda akan mempunyai saldo investasi yang sangat besar karena simpanan Anda ditambah dengan bunga. Hasilnya tentu berbeda dengan menabung di celengan misalnya atau menyimpan uang di rumah karena Anda tak akan memperoleh tambahan dari bunga.

Investasi yang dilakukan sekali saja

Pilihan lain untuk berinvestasi adalah menanamkan uang sekali saja ke dalam suatu instrumen investasi atau lump sum. Jadi Anda hanya perlu menyimpan uang sekali saja misalnya pada produk deposito. Dengan mengendapkan dana Anda selama jangka waktu tertentu, setiap tahunnya Anda juga akan memperoleh sejumlah uang yang merupakan bunga untuk kemudian ditambahkan kepada uang deposito tersebut. Bila bunga deposito ini turut diendapkan maka di masa depan hasilnya akan menjadi besar.

Hukum 72

Lalu bagaimana investasi yang kita lakukan menjadi berlipat? Bila Anda melakukan investasi lump sum maka pada jangka waktu tertentu dana tersebut akan menjadi berlipat ganda. Contohnya bila Anda menanamkan modal sebesar 1 juta rupiah pada deposito dengan bunga yang telah ditetapkan oleh pihak bank yaitu sebesar 12% per tahun. Bila Anda mengendapkan dana tersebut selama 6 tahun, maka dana Anda akan meningkat menjadi dua kali lipat. Anda bisa menghitung nilai investasi ini dengan hukum 72, yaitu membagi angka 72 dengan suku bunganya (12%) dari produk investasi Anda. (72/12) X 1 tahun = 6 tahun. Itulah waktu yang dibutuhkan agar investasi yang Anda tanamkan memberi hasil dua kali lipat.

Resiko investasi

Banyak orang yang enggan berinvestasi karena khawatir dengan resikonya terutama bila yang bersangkutan tak mempunyai banyak uang. Misalnya seseorang memiliki dana segar sebanyak 10 juta dan bingung hendak menyimpannya pada bank atau pada jenis investasi lain. Memang aman menyimpan uang di bank tetapi seringkali pula kita tergoda untuk menanamkan modal pada tempat lain meskipun sering merasa khawatir pula dengan resikonya. Padahal harus disadari bahwa semua jenis investasi itu selalu mengandung resiko. Nah, inilah beberapa resiko dalam investasi pasar uang.

1. Berkurangnya nilai investasi

Kehilangan uang pada investasi tentu merupakan hal yang tidak mungkin bila lembaga investasi yang menjadi mitra Anda adalah institusi terpercaya, legal, dan profesional. Meskipun demikian memang adalah instrumen investasi yang mengandung resiko besar, sedang, atau kecil. Saat ini bila Anda berinvestasi yang sering menjadi pertanyaan adalah seberapa besar penurunan nilai yang dapat Anda tanggung bila terjadi kegagalan pada investasi?

Apakah 10%, 30%, 50%, atau mungkin 100%? Seberapa pun besarnya nilai kerugian yang dapat Anda tanggung tetapi penting untuk diingat bahwa resiko adalah bagian dari investasi. Dengan demikian Anda harus waspada bila ada lembaga penghimpun dana atau lembaga investasi yang menjanjikan profit terus-menerus bahkan pada angka tertentu dalam hitungan minggu, bulan, atau tahun karena mustahil terjadi.

2. Produk yang sulit untuk dijual

Kekhawatiran kedua yang kerap mendera calon investor adalah apakah instrumen investasi yang dibelinya itu bisa dengan mudah dijual kembali atau tidak. Inilah sebabnya banyak orang lebih suka membeli emas bila mempunyai dana berlebih karena produk ini dianggap mudah dijual kembali saat membutuhkan dana segar terutama dalam waktu mendesak. Selain itu ada pula orang yang lebih suka membeli mata uang yang nilainya bisa mempertahankan asetnya misalnya US $. Setelah membeli mata uang asing kemudian uang tersebut akan disimpan pada bank. Bila disimpan sendiri kondisi fisik kertas bisa rusak lebih cepat sehingga akan menyulitkan bila suatu saat hendak dijual kembali. Beberapa bank atau money changer bahkan sering tak mau menerima mata uang asing bila kondisinya kumal, rusak, atau robek.

Produk investasi lain yang juga agak sulit dijual adalah benda-benda koleksi karena ada kalangan tersendiri yang secara eksklusif membeli barang-barang ini. Benda koleksi yang berupa lukisan misalnya hanya akan diminati oleh orang-orang tertentu yang mempunyai jiwa seni tinggi. Tak selalu mudah untuk menjual lukisan tetapi saat sekali terjual harganya bisa menjadi sangat tinggi dan memberikan keuntungan besar bagi penjualnya. Inilah sebabnya sebelum memutuskan untuk berinvestasi sebaiknya ketahuilah terlebih dahulu potensi penjualan produk tersebut. Jangan sampai menggunakan dana Anda dengan maksud investasi tetapi ternyata produk yang Anda beli tersebut sulit dijual untuk memperoleh imbal hasil.

3. Hasil investasi memberikan imbal hasil yang kecil

Sering terjadi hasil investasi yang diharapkan bisa menjadi sandaran di masa depan justru memberikan profit yang nilainya lebih kecil bila dibandingkan dengan kenaikan harga barang dan jasa. Hal ini terjadi karena inflasi yang mengurangi nilai uang dan melemahkan daya beli uang tersebut. Jadi seandainya Anda berinvestasi pada deposito dengan bunga 10% per tahunnya sementara harga barang dan jasa mengalami kenaikan 15% per tahun tentu saja hasil investasi ini tidak sepadan.

Selain diakibatkan oleh inflasi yang menyebabkan kenaikan harga barang dan jasa bisa saja kondisi ini disebabkan oleh produk investasi yang Anda pilih memang kurang sesuai. Beberapa dari investor memang menginginkan sebuah produk investasi konservatif yang aman dan minim resiko. Tetapi konsekuensi dari keinginan ini adalah imbal hasil yang diperoleh dari investasi tersebut memang tak dapat mengungguli kenaikan barang dan jasa. Bila dibiarkan dari tahun ke tahun bukan tak mungkin suatu saat nanti Anda bisa pailit.

Lalu apa solusi dari kondisi tersebut? Anda harus membuka mata dan telinga lebar-lebar dan harus selalu menambah pengetahuan tentang investasi. Pelajari berbagai informasi yang mengulas tentang produk-produk jenis investasi lain yang mungkin sebelumnya tak pernah Anda ketahui. Cermati tentang modal yang dibutuhkan untuk melakukan investasi tersebut, potensi imbal hasilnya, termasuk konsekuensinya yang berupa resiko. Siapa tahu jenis investasi tersebut adalah yang paling sesuai bagi Anda.

Demikianlah beberapa hal yang perlu Anda ketahui tentang resiko investasi terutama dalam bidang keuangan. Semoga bermanfaat bagi Anda dan dapat menjadi salah satu referensi berharga dalam memilih investasi yang paling sesuai.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
"Analisa Teknikal Diupdate Antara Jam 12.00-15.00 WIB"
Dapatkan Pemberitahuan Update Langsung Ke Email Anda

Leave a Reply

Baca Juga Artikel Terkaitclose