Kesalahan-Kesalahan Pada Investasi Saham

Kesuksesan atau pun kegagalan seorang investor pada pasar saham dipengaruhi oleh banyak hal tetapi yang paling sering terjadi adalah kesalahan investor sendirilah yang menyebabkannya gagal. Benjamin Graham, seorang investor populer dari negara Paman Sam sekaligus ekonom, pernah mengatakan bahwa orang-orang cenderung untuk berjudi atau melakukan spekulasi sehingga saham biasa sering menjadi subjek fluktuasi harga yang berlebihan dengan kenaikan atau penurunan yang tidak rasional. Hal ini dipicu oleh sifat tamak sekaligus harapan dan ketakutan dari individu terkait. Berikut ini adalah kesalahan investasi saham yang sering terjadi dan dapat menjadi hambatan bagi kesuksesan Anda pada pasar saham.

1. Tidak memperhatikan fundamental
Investor cenderung akan mengabaikan fundamental pada perusaan terkait tempat mereka ingin menanamkan saham saat terburu-buru atau bernafsu untuk dapat menghasilkan keuntungan cepat pada pasar saham. Beberapa orang bahkan “tak sempat” melewatkan waktu sebentar saja untuk mendapatkan informasi dasar tentang perusahaan seperti jasa atau produk yang dipasarkan oleh perusahaan tersebut, harapan perusahaan di masa yang akan datang, dan hal-hal lain yang utama.

Baca Juga : Prospek Investasi Saham Tahun 2015

Salah satu kesalahan investasi saham adalah investor ritel yang terbujuk oleh optimisme pada pidato manajemen perusahaan mengenai rencana pengembangan perusahaan tentatif walaupun arahnya cenderung pada permainan jangka pendek tanpa memperhitungkan kenaikan harga yang berlaku saat ini. Hal ini merupakan pernyataan kepala riset di Karvy Stock Broking, India. Seharusnya, pelaku saham mengincar perusahaan yang terbukti mampu menyajikan pertumbuhan pendapatan secara berkesinambungan sekaligus menunjukkan pengelolaan perusahaan yang baik dan profesional.

2. Harga saham yang murah tetapi mahal
Salah satu resep kesuksesan seorang investor adalah mencari saham yang berharga murah tetapi mempunyai harapan pertumbuhan yang tinggi di masa depan. Yang dimaksud murah di sini adalah saham yang dijual dengan harga di bawah nilai aslinya namun berpotensi bagus di masa depan. Tetapi sayangnya para pendatang baru pada pasar saham sering menyalahartikan strategi ini dengan membeli saham berharga murah demi mendapatkan profit yang besar.

Padahal, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, saham murah yang dimaksud di sini bukanlah saham yang asal harganya rendah. Harga yang rendah tersebut bisa saja disebabkan oleh perusahaan yang kredibilitasnya kurang di mata masyarakat atau potensinya tak terlalu bagus. Analoginya adalah demikian, Anda memiliki uang 10 ribu rupiah, sementara harga telur segar adalah 20 ribu rupiah sekilo dan telur yang hampir busuk adalah 10 ribu sekilo. Pada kondisi pasar demikian, apakah Anda memilih sekilo telur yang hampir busuk atau setengah kilo telur tetapi segar?

Keterbatasan dana investasi sering menjadi alasan para pendatang baru pada pasar saham untuk membeli “sekilo telur yang hampir busuk” walaupun peluang kerugian akan sangat besar. Oleh karena itu hindarilah terjebak pada mindset ini karena peluang profit investasi Anda tak berbanding lurus dengan jumlah lembar saham yang Anda miliki, tetapi dari masa depan perusahaan yang sahamnya Anda miliki. Harus disadari bahwa peluang profit yang bisa Anda peroleh akan jauh lebih besar bila Anda membeli saham yang unggul walaupun hanya sedikit, daripada membeli saham recehan yang di masa depan nanti mungkin tak akan ada harganya.

3. Keuntungan jangka pendek
Kesalahan investasi saham yang juga sering dilakukan oleh para newbie adalah hanya memperhitungkan keuntungan jangka pendek, sementara kemampuan untuk memprediksi pasar sangat dibutuhkan jika ingin menghasilkan keuntungan besar dalam waktu yang singkat. Kita sudah mengetahui bahwa pada jangka pendek harga berfluktuasi sangat cepat pada pasar saham sehingga peluang untuk mendapatkan keuntungan ditentukan oleh kecanggihan investor dalam melakukan transaksi yang sangat singkat. Sementara dalam jangka waktu yang lebih panjang, pasar saham biasanya dapat menghasilkan profit yang positif.

4. Tidak menghiraukan portofolio
Dalam investasi saham pernah terjadi seorang investor yang membeli saham suatu perusahaan lalu “melupakannya”. Tetapi ternyata 10 tahun kemudian perusahaan tersebut telah berkembang besar dengan saham yang menghasilkan keuntungan. Dapat dikatakan hal ini bukanlah model investasi yang baik. Mengapa demikian? Karena hal ini mengandung resiko tinggi karena kondisi perekonomian di suatu negara berikut pasar saham sering tak menentu, demikian pula perubahaan ekonomi global, ekonomi lokal, manajemen dan strategi perusahaan yang bersangkutan.

Akan lebih bijaksana jika seorang investor mendata ulang portofolio yang dimilikinya secara teratur. Jika outlook suatu perusahaan semakin bagus atau paling tidak stabil maka Anda boleh mempertahankan saham perusahaan terkait atau membelinya lagi. Sebaliknya, saat prediksi potensi yang dijadikan dasar untuk mempertahankan saham suatu perusahaan tidak lagi berlaku Anda pun dapat segera menjualnya.

5. Tak mau rugi
Kesalahan investasi saham berikutnya yang sering dilakukan oleh investor adalah enggan menanggung kerugian dengan melakukan “cut loss” pada saham-saham yang telah terpuruk. Selain itu investor juga terus mempertahankan saham yang tengah merosot tersebut dengan harapan harganya akan kembali naik tanpa menghiraukan fundamentalnya. Yang paling buruk adalah saat investor justru terus-menerus membeli semakin banyak saham dengan tujuan mengurangi biaya rata-rata pada portofolio saham mereka. Strategi ini sebenarnya baru cocok dilakukan jika penurunan harga saham hanya bersifat temporer dengan prospek pertumbuhan yang masih berpotensi bagus. Jadi, mulai saat ini sebaiknya sebelum bertindak selidiki terlebih dahulu mengapa harga suatu saham bisa sampai merosot.

6. Memasuki atau keluar pasar di saat yang kurang tepat
Rasanya semua pelaku pasar saham telah mengetahui bahwa berita selalu membawa dampak yang berlebihan bagi pasar, baik di saat turun atau naiknya. Untuk itu harga saham idealnya harus seimbang dengan peluang profit pendapatan suatu perusahaan dan total kapita. Jika terjadi kepanikan pada pasar harga saham seringkali menjadi underpriced atau overpriced.

Pada kondisi bullish, seorang investor bisa terpengaruh dengan membeli saham-saham yang overpriced karena investor lain juga melakukan pembelian. Hal ini dilakukan karena mereka berharap harga akan terus naik. Sementara pada kondisi pasar bearish para investor sering terburu-buru menjual saham di saat perlakukan yang tepat sebenarnya adalah melakukan aksi beli.

Secara singkat dapat disimpulkan bahwa pada jangka pendek pasar sering membuat keputusan yang salah, sementara dalam jangka panjang tindakan pasar akan lebih masuk akal. Salah satu faktor kesuksesan investor saham adalah selalu mendasarkan investasinya dengan membeli saham-saham yang murah tetapi potensial atau intrinsik saham. Caranya adalah melakukan aksi beli dengan fundamental kuat saat harga pada pasar tengah turun. Jika harga telah menanjak saham-saham tersebut akan memberikan profit yang besar.

7. Menerapkan tip yang tidak tepat
Seorang investor bisa saja melakukan kesalahan investasi saham karena menuruti tip yang tidak jelas misalnya tip yang didapat dari email atau sms untuk mendapatkan keuntungan luar biasa. Dalam investasi saham terdapat keadaan investor yang terpengaruh pada hal-hal demikian atau sering disebut dengan menggoreng saham. Kebiasaan tersebut tentu lama-lama bisa membuat Anda rugi. Akan lebih bijaksana bila Anda melakukan analisa dengan dasar yang lebih rasional dalam melakukan pembelian saham perusahaan.

Demikianlah beberapa kesalahan investasi saham yang seharusnya Anda hindari bila ingin sukses dalam investasi saham. Semoga bermanfaat!

Artikel Lain Seputar Investasi Saham

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
"Analisa Teknikal Diupdate Antara Jam 12.00-15.00 WIB"
Dapatkan Pemberitahuan Update Langsung Ke Email Anda

Leave a Reply

Baca Juga Artikel Terkaitclose