Akhir Pekan Cerah Bagi Rupiah dan IHSG Berkat Sentimen Regional

Bonus Welcome Deposit FBS

Referensi resmi nilai tukar Jakarta Interbank Spot Dollar Rate menguat dari Rp14,839 ke Rp14,824 pada akhir perdagangan hari Jumat ini (21/September), berkat melonggarnya tekanan perang dagang Amerika Serikat-Tiongkok. Dalam pemantauan platform FX_IDC, kurs USD/IDR juga menurun 0.16 persen ke level Rp14,806. Serentak dengan bursa-bursa regional lainnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga naik 0.45 persen ke level 5,957.74.

Akhir Pekan Cerah Bagi Rupiah dan IHSG

Dari sepuluh sektor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI); tujuh sektor tercatat positif, dan tiga sektor negatif. Kenaikan tertinggi dialami oleh sektor Industri Dasar yang meningkat 1.39 persen, disusul oleh Perdagangan 0.96 persen, dan Pertambangan setinggi 0.93 persen. Ketiga sektor dengan performa terburuk adalah Aneka Industri, Properti, dan Infrastruktur.

Saham-saham yang mencatat kenaikan nilai tertinggi diantaranya Bank Negara Indonesia (BBNI) yang meningkat nyaris 5 persen dalam sehari, Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang naik 2.62 persen, dan Unilever Indonesia (UNVR) yang meningkat hampir 1 persen. Investor asing membukukan Net Buy tiga kali lipat lebih besar dibanding hari Kamis, yaitu sebanyak Rp1.13 Triliun.

Baca Juga:   Keuntungan Euro Diperiksa Sebagai Prospek Pelanggaran ECB

Penguatan kurs Rupiah dan bursa saham Indonesia ini selaras dengan sentimen regional. Hari ini, indeks Shanghai meningkat 2.41 persen; Nikkei 225, Strait Times, dan Hang Seng masing-masing naik nyaris satu persen; sementara Kospi Korea mencuat 0.42 persen.

Faktor utama yang bermain di pasar adalah meredanya kekhawatiran mengenai perang dagang, sehubungan dengan sejumlah pernyataan dari Tiongkok. Perdana Menteri Li Keqiang mengungkapkan bahwa Beijing tidak akan melakukan devaluasi mata uang secara kompetitif, karena Tiongkok dan AS takkan memperburuk konflik perang dagang.

Selain itu, rumor dari narasumber tak bernama yang dikutip oleh Bloomberg menyebutkan bahwa Tiongkok berencana memangkas bea impor untuk mayoritas negara mitra dagangnya. Langkah itu diambil dalam rangka menanggulangi tanda-tanda perlambatan aktivitas ekonomi di dalam negeri mereka yang muncul dalam beberapa bulan terakhir.

Belum jelas mengenai negara mana saja yang akan menikmati pemangkasan tarif impor dari Tiongkok tersebut, serta apakah AS juga akan mendapatkan benefit serupa meski Washington tengah menerapkan bea impor tinggi atas produk-produk Tiongkok yang didatangkan ke negaranya. Berdasarkan aturan World Trade Organization (WTO), pemangkasan tarif impor seharusnya diberlakukan sama rata atas semua negara.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply