Akibat Perang Dagang, Aktivitas Manufaktur Tiongkok Melambat

Bonus Welcome Deposit FBS

Indeks PMI Caixin yang dilaporkan tadi pgi (3/September) menunjukkan aktivitas sektor manufaktur di Tiongkok mencatat pertumbuhan paling lambat dalam 14 bulan terakhir pada bulan Agustus. Imbas konflik perdagangan dengan Amerika Serikat mulai mengemuka dengan merosotnya pesanan ekspor selama lima bulan beruntun dan maraknya pelepasan tenaga kerja.

Yuan masih menguat tipis versus Dolar AS, dengan kurs USD/CNY menurun sebesar 0.11 persen ke level 6.8224 dalam perdagangan intraday. Namun, hal itu kemungkinan dilandasi oleh intervensi bank sentral Tiongkok (People’s Bank of China/PBOC).

Aktivitas Manufaktur Tiongkok Memburuk

Data Purchasing Managers’ Index (PMI) Caixin/Markit untuk bulan Agustus jatuh ke 50.6 dari 50.8 pada bulan Juli, hanya selisih 0.1 dari ekspektasi ekonom sebelumnya. Meski masih di atas ambang 50 dan mengindikasikan belum terjadi kontraksi signifikan, tetapi data-data secara umum mengecewakan.

“Sektor manufaktur terus menerus melemah di tengah lesunya permintaan, meskipun sisi suplai masih stabil… Saya tak berpikir kalau suplai yang stabil bisa dipertahankan di tengah lemahnya permintaan,” ungkap Zhengsheng Zhong, direktur Macroeconomic Analysis di CEBM Group, dalam sebuah catatan yang dikutip oleh Reuters.

Baca Juga:   Kiwi Yang Lebih Tinggi Dimana Greenback Melemah

“Lebih lanjut, memburuknya situasi ketenagakerjaan kemungkinan berdampak pada pertumbuhan konsumsi. Perekonomian Tiongkok saat ini menghadapi tekanan penurunan yang relatif nyata.

Sebenarnya, perekonomian Tiongkok sudah menunjukkan tanda-tanda tertekan sejak sebelum eskalasi konflik perdagangan dengan Amerika Serikat. Upaya pemerintah untuk mengendalikan risiko finansial dan bahaya utang telah mengakibatkan banyak perusahaan kesulitan mendapatkan pendanaan, sehingga memicu terjadinya sejumlah kasus gagal bayar utang (default).

Bertambahnya laporan mengenai penurunan pesanan ekspor mengindikasikan bahwa tekanan atas perekonomian Tiongkok makin berat. Bahkan, dampaknya kini mengancam keberlangsungan pabrik-pabrik di Tiongkok. Sub-indeks pesanan ekspor dalam laporan PMI Caixin hanya mencapai 48.8 pada bulan Agustus, menurun dibanding 48.4 pada bulan Juli.

Survei pemerintah Tiongkok mengenai kondisi manufaktur bulan Agustus yang dirilis pada hari Sabtu juga menunjukkan bahwa aktivitas pabrikan di Guangdong sebagai provinsi penghasil ekspor terbesar, mengalami kontraksi untuk pertama kalinya sejak bulan Maret 2016.

Chen Hongyu, salah satu pejabat setempat, menyebut penyebab penurunan PMI adalah restrukturisasi industri domestik dan dampak negatif dari “perubahan drastis” dalam perekonomian dan perpolitikan internasional.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply