Aksi Jual Mereda, Dolar AS Diproyeksikan Susah Reli

Bonus Welcome Deposit FBS

Dolar AS naik tipis, sejalan dengan berkurangnya aksi jual atas saham-saham Wall Street. Dow Jones, S&P dan Nasdaq mencatat penurunan lebih rendah pada hari Kamis, ketimbang hari Rabu. Indeks Dolar AS (DXY) pun meningkat 0.06 persen ke kisaran 95.10 pada perdagangan sesi Asia dan Eropa hari Jumat ini (12/Oktober), sementara mata uang-mata uang mayor lainnya bergerak defensif.

Dolar AS Diproyeksikan Susah Reli

Pasangan mata uang EUR/USD terpantau minus 0.10 persen ke 1.1583 menjelang akhir sesi Eropa, sementara GBP/USD minus 0.12 persen ke 1.3219 dan USD/JPY meningkat 0.10 persen ke 112.27. Namun, kebangkitan Greenback kali ini diperkirakan akan terbatas saja.

Kekhawatiran mengenai perang dagang antara AS dan Tiongkok, serta proyeksi kenaikan suku bunga Federal Reserve, telah mendorong reli Dolar AS selama beberapa bulan terakhir. Akan tetapi, lonjakan yield obligasi yang dapat berimbas buruk bagi sektor riil dan buruknya data CPI yang dirilis pada hari Kamis, membuat pasar mengkhawatirkan prospek ekonomi AS ke depan, sehingga Indeks Dolar AS merosot jauh.

Baca Juga:   Aussie Tergelincir Ke Bawah, Kiwi Bertahan Stabil Di Akhir Perdagangan

Sebagaimana diketahui, data inflasi konsumen (Consumer Price Index/CPI) Amerika Serikat bulan September 2018 bertumbuh lebih lambat dibanding perkiraan awal. Dalam laporan yang dipublikasikan hari Kamis malam, CPI (MoM) dikabarkan hanya tumbuh 0.1 persen, setelah meningkat 0.2 persen dalam bulan Agustus.

“Saya ragu kalau Dolar AS akan mendapatkan lebih banyak dukungan siklikal sepanjang sisa tahun ini. Ketidakpastian politik juga bisa menekan Dolar AS menjelang pemilu tengah periode pada 6 November,” ujar Derek Halpenny dari MUFG. Apalagi, menurutnya, “Implikasi struktural negatif dalam kurun waktu lebih panjang dari defisit ganda AS akan semakin membebani sentimen Dolar AS.”

“Jika pasar modal kalem lagi dengan cepat tanpa perkembangan (kemerosotan kemarin) meluas ke pasar aset finansial lainnya, maka kami kira tak ada alasan mengapa Federal Reserve takkan melanjutkan kenaikan suku bunganya sesuai rencana (sebanyak satu kali lagi di bulan Desember dan dua kali di tahun 2019),” ujar Esther Maria Reichelt, seorang pakar strategi forex di Commerzbank Frankfurt. Meski begitu, ia menilai, “Dolar akan mampu mempertahankan level kuatnya sekarang, tetapi potensi apresiasi lebih lanjut adalah terbatas.”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply