Antisipasi Data GDP, Dolar AS Menekan Mayoritas Mata Uang Mayor

Bonus Welcome Deposit FBS

Indeks Dolar AS (DXY) meningkat sekitar 0.17 persen ke kisaran 97.76 pada awal sesi New York hari Rabu ini (24/4), setelah menguat konsisten sejak awal sesi Asia. Pelaku pasar memperkirakan AS akan berhasil menunjukkan pertumbuhan ekonomi prima dalam rilis GDP pada hari Jumat, sementara berbagai negara asal mata uang mayor lainnya justru merilis data ekonomi yang mengecewakan.

Dolar AS Menekan Mayoritas Mata Uang Mayor

Kemarin, biro sensus AS melaporkan bahwa New Home Sales mengalami kenakan sebesar 4.5 persen (Month-over-Month) sepanjang bulan Maret, padahal sebelumnya diperkirakan akan menurun sebesar 3.0 persen. Laporan yang solid tersebut mendukung ekspektasi pasar mengenai laporan Gross Domestic Product (GDP) Amerika Serikat pada kuartal pertama tahun ini.

“USD kuat secara umum, seiring pasar menelaah data pendapatan perusahaan yang kuat di Amerika Serikat dan data New Home Sales yang bagus,” kata Timothy Fox dari Emirates NBD. Laporan keuangan sejumlah perusahaan multinasional AS dirilis lebih baik dibandingkan estimasi, antara lain Twitter, Hasbro, dan Coca-Cola.

“USD diperkirakan akan diperdagangkan dengan bias naik,” kata Quek Ser Leang, seorang analis dari UOB Singapura, “Dolar AS melaju setelah pasar keuangan dibuka kembali seusai liburan Paskah dan partisipan pasar lebih menyukai Greenback menjelang rilis data GDP AS untuk tiga bulan pertama tahun 2019 pada hari Jumat.”

Baca Juga:   Euro Sedikit Lebih Rendah Terhadap Dolar Setelah Data AS

Penguatan Dolar AS mengalami akselerasi, setelah pengumuman inflasi Australia tadi pagi mengakibatkan para analis menaikkan peluang pemangkasan suku bunga RBA. Dibandingkan situasi AS yang diperkirakan tak akan merubah suku bunga dalam tahun ini, prospek aset berdenominasi AUD menjadi lebih suram. Di sisi lain, pengumuman kebijakan bank sentral Kanada malam ini juga diperkirakan akan lebih dovish, sehingga berpotensi mendongkrak USD lebih tinggi lagi.

Dari benua Eropa, ketegangan politik kembali mencuat karena mengemukanya upaya untuk melengserkan Theresa May dari jabatannya sebagai Perdana Menteri Inggris. Padahal, rencana keluarnya Inggris dari Uni Eropa yang dibuat oleh May belum mencapai final dan masih menjadi sumber ketidakpastian terbesar bagi para pelaku bisnis dan bank sentralnya. Baik Inggris maupun Zona Euro diperkirakan tidak akan menaikkan suku bunga sebelum pergantian tahun.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply