AUD Melonjak Pada Sesi Asia Tapi Reli Diperkirakan Terbatas

Bonus Welcome Deposit FBS

Dolar Australia sempat melompat nyaris 1 persen hingga mencapai level tertinggi harian dekat ambang 0.7200 terhadap Dolar AS pada sesi Asia hari ini (18/4), sehubungan dengan publikasi data ketenagakerjaan yang amat impresif. Namun, lonjakan tersebut hanya berlangsung sejenak. Saat berita ditulis menjelang pembukaan sesi Eropa, pasangan mata uang AUD/USD telah melandai kembali ke kisaran 0.7180-an.

AUD Melonjak Pada Sesi Asia

Australian Bureau of Statistics (ABS) melaporkan bahwa perekonomian berhasil menciptakan 25.7k pekerjaan baru dalam bulan Maret 2019. Angka tersebut lima kali lipat lebih besar ketimbang pencapaian 4.6k pada periode Februari, serta jauh melampaui ekspektasi yang dipatok pada 12.0k. Selain itu, meski tingkat pengangguran meningkat dari 4.9 persen menjadi 5.0 persen, tetapi peningkatan tersebut diiringin dengan kenaikan tingkat partisipasi angkatan kerja.

Laporan ini bisa jadi mempengaruhi pengambilan keputusan bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA). Dalam rapat kebijakan terakhirnya, para pejabat RBA mengungkapkan bahwa mereka tak menilai perubahan suku bunga dalam jangka pendek tak dibutuhkan, sembari mengindikasikan bahwa peluang kenaikan maupun penurunan suku bunga di masa depan sama besarnya. Dengan demikian, berkurangnya tekanan di sektor ketenagakerjaan dapat mengurangi urgensi pemangkasan suku bunga oleh RBA.

Baca Juga:   Sterling Memegang Keuntungan VS Dolar Setelah BoE Tidak Berubah

Terlepas dari itu, Dmitri Zabelin dari DailyFX mencatat, “Lonjakan Aussie sulit dipertahankan setelah rilis data ketenagakerjaan. (AUD/USD) juga bereaksi lebih antusiasi menanggapi berita buruk -seperti data CPI New Zealand terbaru- daripada berita baik. Ke depan, mata uang yang berkaitan erat dengan sentimen pasar ini akan terus mengikuti perekonomian global dengan pengamatan khusus pada hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China.”

Sebagaimana diketahui, pada hari Rabu, Badan Statistik New Zealand melaporkan bahwa laju inflasi tahunan lengser dari 1.9 persen menjadi 1.5 persen (Year-on-Year) dalam kuartal I/2019. Laporan tersebut sempat mengakibatkan NZD/USD anjlok drastis, sekaligus berimbas pada tingginya volatilitas mata uang negara tetangganya, Dolar Australia, meskipun kemudian teredam oleh kabar positif terkait pemulihan ekonomi China. Sebagai negara pengekspor komoditi yang berhubungan erat dengan negeri Tirai Bambu, outlook perekonomian Australia dan New ZealandĀ  amat dipengaruhi oleh kabar tersebut.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply