Aussie Melemah Akibat Buruknya Sentimen Konsumen Maret 2019

Bonus Welcome Deposit FBS

Dolar Australia tergelincir sekitar 0.32 persen ke level 0.7058 terhadap Dolar AS, setelah rilis data sentimen konsumen yang merosot jauh dalam bulan Maret 2019. Aussie diperdagangkan sideways terhadap Dolar New Zealand, tetapi masih terpuruk pada level terendah tahun ini pada kisaran 1.032. Masih alotnya negosiasi perdagangan AS-China juga turut membani nilai tukar mata uang-mata uang komoditas hari ini (13/3).

Aussie Melemah Akibat Buruknya Sentimen Konsumen Maret 2019

Tadi pagi, rilis indeks sentimen konsumen Westpac-Melbourne dilaporkan merosot dari +4.3 persen menjadi -4.8 persen. Artinya, sentimen konsumen turun ke teritori “nyaris pesimis”, setelah bertahan pada teritori “nyaris optimis” sepanjang tahun 2018. Matthew Hassan, ekonom senior Westpac, mengatakan bahwa ulasan media mengenai berita-berita ekonomi yang mengecewakan merupakan penggerak utama yang mengakibatkan pelemahan sentimen konsumen.

Laporan tersebut dipublikasikan hanya beberapa saat setelah ekspektasi pertumbuhan GDP Australia disebut-sebut hanya mencapai 2.3 persen dalam tahun 2019. Beragam faktor yang memengaruhi ekspektasi itu antara lain rapuhnya sektor properti, lemahnya belanja konsumen, dan ketidakpastian outlook perdagangan internasional.

Baca Juga:   USD / CAD Meningkat Setelah Data AS Yang Optimis

Lemahnya proyeksi pertumbuhan Gross Domestic Product tersebut dikhawatirkan dapat menjadi motivasi tambahan bagi bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) untuk memangkas suku bunga dalam beberapa bulan ke depan. Langkah tersebut bisa jadi akan dibahas dalam rapat kebijakan RBA berikutnya, walaupun pengumuman resmi belum tentu akan dilakukan pada saat itu juga.

Sementara itu, Perwakilan Dagang AS, Robert Lighthizer, mengutarakan sebuah pernyataan mengejutkan dalam acara dengar pendapat pada hari Selasa. Menurutnya, Amerika Serikat bisa menaikkan kembali bea impor terhadap barang-barang asal China. Pasalnya, perundingan kedua negara berlangsung alot, dan agaknya China tak mau memberikan konsesi tambahan selain pengurangan defisit dagang dan penurunan bea impor atas produk AS.

Akhir minggu lalu, penasehat Gedung Putih, Larry Kudlow, juga mengindikasikan akan ditundanya pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Karenanya, rangkaian berita ini menyurutkan ekspektasi pasar akan kemungkinan tercapainya kesepakatan dagang dalam waktu dekat. Padahal, konflik perdagangan antara dua negara adidaya tersebut telah menyeret pula perekonomian sederetan negara lain untuk masuk dalam ketidakpastian, termasuk Australia.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply