Aussie Terkoreksi Cukup Dalam Di Tengah Absensi Data Domestik

Bonus Welcome Deposit FBS

Pasangan mata uang AUD/USD merosot lebih dari 0.4 persen ke kisaran 0.7140 dalam perdagangan hari Kamis ini (11/4), meskipun tidak ada jadwal rilis data berdampak tinggi dari dalam negeri Kanguru. Selain karena penguatan Dolar AS dan penurunan minat risiko pasar, pelemahan Aussie kali ini juga disebabkan oleh berbagai kekhawatiran menjelang digelarnya pemilu federal Australia.

Aussie Terkoreksi Cukup Dalam Di Tengah Absensi Data Domestik

Tadi pagi, Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengumumkan akan menggelar pemilihan umum federal pada tanggal 18 Mei mendatang. Padahal hasil polling terbaru menunjukkan bahwa kelompok oposisi yang digawangi oleh partai Buruh Australia dan dipimpin rivalnya, Bill Shorten, justru mengungguli koalisi liberal-nasional-nya Morrison.

Publikasi outlook ekonomi versi International Monetary Fund (IMF) turut meningkatkan kekhawatiran. Dalam proyeksi terbarunya, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Australia hanya akan naik 2.1 persen dalam tahun 2019, setelah sempat menanjak 2.8 persen pada tahun 2018. Prediksi IMF tersebut lebih rendah 0.7 poin dari proyeksi sebelumnya yang dirilis pada Oktober 2018. Apabila benar terjadi, maka perlambatan ekonomi semacam itu bisa mengakibatkan bank sentral Australia melaksanakan pemangkasan suku bunga.

Baca Juga:   Keuntungan Dolar Australia Menjelang Menit RBA, Stevens pidato

Dalam pidatonya tadi pagi, Deputi Gubernur RBA, Guy Debelle, menyatakan bahwa bank sentral tak akan buru-buru memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Namun, banyak analis mensinyalir kalau indikasi inflasi Australia hingga saat ini masih loyo.

Berikutnya, Dolar Australia akan menantikan rilis laporan stabilitas keuangan RBA esok hari, serta publikasi neraca perdagangan China. China merupakan salah satu pangsa pasar ekspor utama Australia, sehingga berita-berita mengenai kondisi ekonominya akan sangat berdampak terhadap AUD. Apalagi, China termasuk salah satu konsumen komoditas global terbesar, sehingga perlambatan ekonominya bisa menjatuhkan harga banyak komoditas yang menjadi sumber pendapatan Australia.

Data inflasi China hari ini mengindikasikan bahwa perekonomian negeri Tirai Bambu bisa jadi sudah masuk dalam jalur pemulihan berkat digelontorkannya anggaran infrastruktur dan diberlakukannya pemangkasan pajak. Namun, upaya negosiasi perdagangan antara China dan AS masih belum menemui titik terang. Kedua belah pihak sulit mencapai kompromi dalam sejumlah pokok masalah krusial, khususnya mengenai hak kekayaan intelektual.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply