Bank Indonesia Tak Ubah Suku Bunga, Kurs Rupiah Menguat

Bonus Welcome Deposit FBS

Referensi nilai tukar resmi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menguat dari Rp14,057 menjadi Rp14,079 pada perdagangan hari Jumat ini (22/2), sementara kurs USD/IDR merosot ke kisaran Rp14,050 dalam perdagangan spot mata uang. Keputusan Bank Indonesia untuk tak merubah suku bunga pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) hari Kamis lalu mendorong penguatan kurs Rupiah.

Kurs Rupiah Menguat

Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia kemarin menunjukkan bahwa bank sentral mempertahankan 7-day Reverse Repo Rate (7DRR) sebesar 6.00 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 5.25 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6.75 persen. Menurut BI, keputusan tersebut sudah selaras dengan upaya untuk memperkuat stabilitas eksternal.

Dalam pernyataan kebijakannya, Bank Indonesia mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi dunia melambat. Namun, mereka meyakini kalau momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga dengan dukungan permintaan domestik. Neraca Pembayaran dan nilai tukar Rupiah masih kondusif, sementara laju inflasi tetap terkendali dan mendukung pencapaian target inflasi sebesar 3.5%±1% (Year-over-Year) dalam tahun 2019.

Baca Juga:   BERITA SAHAM RABU 31/10/2018 - ERAJAYA SWASEMBADA RAIH PENJUALAN Rp25,33 TRILIUN HINGGA SEPTEMBER

Secara keseluruhan, hasil RDG BI tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar dan tidak memberikan kejutan yang menyimpang dari perkiraan. Hal itu mendongkrak kurs Rupiah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga ditutup menguat pada akhir perdagangan hari Kamis.

Meski demikian, IHSG terpantau melandai 0.72 persen ke level 6,490.52 pada pertengahan sesi kedua hari ini, lantaran mengikuti rontoknya beragam bursa saham lain di kawasan Asia. Tadi pagi, indeks Nikkei 225 sempat melorot 0.46 persen, indeks Hang Seng anjlok 0.67 persen, sementara indeks Shanghai komposit menurun 0.42 persen.

Selain itu, nilai tukar Rupiah sebenarnya masih dibebani oleh defisit neraca transaksi berjalan yang membengkak pada akhir tahun 2018. Buruknya neraca transaksi berjalan tersebut diakibatkan oleh pelarian dana-dana asing dan kemerosotan sektor ekspor yang tak diimbangi dengan penurunan impor secara memadai. Iklim politik menjelang gelaran pemilu beberapa bulan mendatang juga menghambat penguatan kurs Rupiah dalam jangka menengah, karena para investor cenderung menunda penanaman investasinya hingga mengetahui siapa pemenang pemilu kelak serta kebijakan-kebijakan apa yang kemungkinan akan dipertahankan atau diubah.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply