BERTA SAHAM KAMIS 06/12/2018 – GUNAWAN DIANJAYA OPTIMIS PENJUALAN TEMBUS Rp1,9 TRILIUN

Bonus Welcome Deposit FBS

IQPlus – Penurunan kurs dolar AS terhadap rupiah dalam beberapa pekan terakhir disambut positif manajemen PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDST). Sebab itu, perseroan tahun depan mematok pertumbuhan penjualan signifikan senilai Rp 1,9 triliun.

Hadi Sucipto, Direktur Perseroan mengatakan, pihaknya optimis tahun depan penjualan akan semakin meningkat. Pasalnya, kurs dolar AS dalam beberapa pekan ini mengalami penurunan signifikan terhadap rupiah.

“Tapi dampaknya baru akan mulai terasa dalam triwulan pertama tahun depan. Sebab kami memproduksi berdasarkan job order. Kami optimis target Rp 1,9 triliun akan tercapai,” kata Hadi Sucipto, Kamis saat public expose di kantornya, Surabaya.

Dikatakan, penurunan kurs dolar akan membuat harga bahan baku juga ikut menurun. Sementara kebutuhan plat baja di dalam negeri terus meningkat. Harganya juga cenderung terus naik. Sehingga kondisi ini akan membuat kinerja perseroan semakin membaik.

“Tahun ini kebutuhan plat baja nasional sekitar 4,7 juta ton. Tahun depan diperkirakan aka ada lonjakan sekitar 7-8 persen menjadi 5,4 juta ton,” tambahnya.

Baca Juga:   Berita Saham MEDC SELASA 30/01/2018

Dia mengaku, selain dipasok dari sejumlah industri baja nasional, kebutuhan baja nasional sebgaian juga masih dipasok dari impor terutama dari Tiongkok. Saat ini kapasitas produksi indsutrt baja nasional sekitar 4,5 juta ton. Tahun depan diperkirakan akan naik tajam menjadi 7-8 juta ton.

“Memang ada kelebihan supplay namun beberapa pabrik baja juga melakukan ekspor. Jadi tidak semua untuk pasar domestik. Kami sendiri juga ekspor ke Singapura, Malaysia dan Italia sekitar 3-7 persen dari total produksi,” ujar Hadi.

Terkait kinerja tahun ini, dia mengaku, untuk penjualan hingga 30 November 2018 emiten berkode GDSA ini berhasil mencapai Rp 1,27 triliun. Sehingga bisa dipastikan, tahun ini penjualannya akan melampui dari target semula yakni Rp 1,2 triliun sebab masih ada satu bulan yang belum dicatat.

Namun begitu, pihaknya mengaku menderita kerugian. Hingga 30 September perseroan yang baru saja merger dengan PT Jaya Pari Steel ini mencatat kerugian Rp 59,2 miliar. Kerugian ini disebabkan selisih kurs dolar AS yang cukup tajam.

Baca Juga:   EUR / USD Mendekati 12 Tahun Rendah, Oleh Bank Deutsche

“Kerugian akibat selisih kurs yang tajam. Harga bahan baku naik 30 persen. Sementara harga jual hanya naik 17 persen saja. Itu yang membuat kami rugi selisih kurs hingga 40 persen,” tandas Syaiful Fuad, direktur perseroan.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply