BI Prediksi Kurs Rupiah Lesu Hingga 2019

Bonus Welcome Deposit FBS

Kurs Rupiah terhadap Dolar AS kembali melemah pada hari Senin ini (10/September), meskipun sempat menguat pada hari Jumat pekan lalu. Referensi nilai tukar Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) tercatat menguat dari Rp14,884 ke Rp14,835. Namun, dalam pantauan platform FX_IDC, kurs USD/IDR berbalik mencuat dari kisaran Rp14,815 ke Rp14,830.

BI Prediksi Kurs Rupiah Lesu Hingga 2019

Pelemahan kurs Rupiah kali ini tak lepas dari pengaruh data ekonomi Amerika Serikat yang cemerlang. Pada hari Jumat, data ketenagakerjaan Amerika Serikat untuk bulan Agustus dilaporkan lebih tinggi dari estimasi awal. Bureau of Labor Statistics mengumumkan bahwa Non-farm Payroll meningkat dari 147,000 ke 201,000 pada bulan Agustus, lebih tinggi dibanding estimasi awal yang dipatok pada 190,000 saja. Rata-rata gaji per-jam juga meningkat dari 2.7 persen menjadi 2.9 persen (Year-on-Year).

Data-data tersebut mendukung berlanjutnya kenaikan suku bunga AS. Padahal, kenaikan suku bunga AS sejak tahun 2017 telah mengakibatkan pelarian dana-dana investasi dari negara-negara berkembang dan memicu pelemahan mata uang-mata uang non-Dolar AS.

Baca Juga:   Yen Jepang Menguat Lebih Jauh Di Asia

Latar belakang serupa bisa jadi terus membayangi kurs Rupiah hingga tahun depan, ditambah dengan kekhawatiran mengenai eskalasi perang dagang AS-Tiongkok, sehingga banyak pihak khawatir kalau pelemahan bakal berlanjut. Secara tak terduga, Bank Indonesia pun berpendapat kondisi eksternal masih akan membebani mata uang bersimbol Garuda ini.

Hari ini, di depan anggota Komisi XI DPR RI, Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityasawara menyatakan bahwa proyeksi rata-rata nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS pada tahun 2019 adalah sekitar Rp 14,300-14,700. Namun demikian, volatilitas kurs Rupiah tahun depan semestinya lebih rendah dibandingkan tahun ini. Diperkirakan, tahun 2019 merupakan puncak bagi bank sentral menaikkan suku bunga, sehingga setelah tahun 2019, kondisi ekonomi diharapkan berangsung pulih dan nilai tukar Rupiah mulai terkoreksi.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia juga masih optimis, meski nilai tukar loyo. Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun 2018 melaju sekitar 5.0-5.4 persen, sejalan dengan risiko eksternal yang terus meningkat. Namun, untuk tahun 2019, laju pertumbuhan ekonomi diperkirakan naik jadi sekitar 5.1-5.5 persen, meskipun situasi global masih cukup menantang.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply