Carney BoE: Tiongkok Dan Brexit Jadi Risiko Bagi Inggris

Bonus Welcome Deposit FBS

Dalam sebuah wawancara dengan BBC, Gubernur Bank Sentral Inggris (Bank of England/BoE), Mark Carney mengungkapkan bahwa sistem finansial Tiongkok menghadirkan salah satu risiko terbesar dalam stabilitas finansial global saat ini. Selain itu, ia juga mengungkapkan besarnya risiko atas perekonomian Inggris yang bersumber dari Brexit, kenaikan utang rumah tangga dan serangan siber terhadap sistem perbankan.

Mark Carney

“Salah satu risiko terbesar dalam perekonomian global (saat ini) adalah perkembangan di Tiongkok,” ungkap Carney, sebagaimana tertuang dalam ringkasan interview yang dipublikasikan di website BBC. Ia memaparkan lebih lanjut, “Tiongkok merupakan sumber pertumbuhan yang sangat besar dalam perekonomian global, sebuah keajaiban ekonomi, memberikan banyak dampak positif. Di saat yang sama, sektor finansial mereka telah berkembang snagat pesat, dan mengandung banyak hal yang dahulu muncul menjelang krisis finansial sebelumnya.”

Oleh karena itu, Carney memperingkatkan bahwa sebuah krisis finansial dengan skala yang sama besarnya dengan krisis yang bermula di Amerika Serikat satu dekade lalu, bisa saja terjadi jika para pejabat yang berwenang terlena.

Baca Juga:   BERITA SAHAM KAMIS 02/08/2018 - PERTAMINA EP CATAT PRODUKSI YANG MELEBIHI TARGET

“Bisakah sesuatu yang seperti ini terjadi lagi?” tanyanya. “(Ya) bisa jadi ada pemicu krisis -jika kita lengah, tentu saja bisa.”

Namun demikian, Carney menenangkan massa dalam komentarnya berikutnya. Menurutnya, bank-bank Inggris saat ini sudah dihimbau agar menyimpan lebih banyak cadangan modal untuk melindungi diri dari kemungkinan perubahan situasi secara drastis sebagaimana terjadi 10 tahun lalu.

Mark Carney yang merupakan mantan Gubernur Bank Sentral Kanada (Februari 2008-Juni 2013) telah menjabat sebagai Gubernur Bank of England sejak tahun 2013. Sebenarnya, masa jabatannya akan berakhir tahun ini. Namun, kemarin (11/September) pemerintah Inggris memperpanjang masa jabatannya hingga akhir Januari 2020 dalam rangka menjaga stabilitas moneter dan finansial di sekitar event keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) yang dijadwalkan terjadi pada Maret 2019. Kabar tersebut disambut baik oleh pelaku pasar, karena kehati-hatiannya dalam menyikapi Brexit dan menetapkan kebijakan moneter dinilai penting. Pandangan-pandangannya juga dianggap sebagian pihak dapat menjaga nilai tukar Poundsterling di tengah besarnya ancaman ekonomi dan politik atas pertumbuhan ekonomi Inggris.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply