Coeure ECB: Inflasi Euro Lamban Karena Peningkatan Kontribusi Sektor Jasa

Bonus Welcome Deposit FBS

Laporan inflasi Zona Euro hari ini (17/5) kembali memunculkan angka-angka yang sesuai ekspektasi dan masih jauh dari target bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB). Kabar tersebut tak mampu mengungkit Euro ke posisi yang lebih tinggi. Pada pertengahan sesi New York, EUR/USD malah tergelincir lagi ke kisaran 1.1170. Namun, anggota dewan gubernur ECB, Benoit Coeure, menilai bahwa lesunya inflasi bisa jadi bukan karena kebijakan moneter tak efektif, melainkan karena kontribusi sektor jasa dalam perekonomian makin bertambah.

Euro Melemah Karena Inflasi Euro Lamban

Sebagaimana diketahui, ECB telah melancarkan kebijakan moneter longgar guna mendorong laju inflasi agar mencapai target 2 persen. Namun, pertumbuhan inflasi tak juga mencapai target tersebut sejak tahun 2013. Hal ini pun membuat banyak ekonom bertanya-tanya mengapa kebijakan moneter ECB tak efektif untuk menggairahkan perekonomian kawasan.

Dalam konteks ini, Coeure berpendapat bahwa perkembangan sektor jasa bisa jadi menjelaskan mengapa laju inflasi sangat lamban meski ECB terus menerus menggelontorkan stimulus moneter. Menurutnya, harga-harga di sektor jasa pada dasarnya lebih rigid, dikarenakan rigiditas upah dan lebih lemahnya persaingan di pasar internasional.

Baca Juga:   Yen Menguat Setelah AS Kobarkan Perang Dagang Versus Eropa

“Sektor jasa yang makin kuat, membuat kebijakan moneter butuh waktu lebih lama untuk ditransmisikan ke inflasi, tetapi efektivitasnya tidak berkurang,” kata Coeure. Lanjutnya, “Efek kebijakan moneter membutuhkan waktu lebih lama untuk melewati perekonomian, tetapi (itu tak lantas berarti kebijakan moneter) itu kurang kuat.”

Lebih lanjut, Coeure meyakini bahwa inflasi akan makin meningkat dalam jangka menengah. Hal itu diharapkannya terjadi seiring dengan bertambahnya jumlah perusahaan yang melakukan penyesuaian harga.

Secara keseluruhan, pernyataan Coeure ini menegaskan kembali komitmen bank sentral Eropa untuk mempertahankan suku bunga di bawah nol dan program stimulus moneter masif. Bias dovish semacam itu jelas cenderung menekan Euro dalam waktu dekat. Apalagi, pelaku pasar saat ini tengah mengantisipasi gelaran pemilihan umum untuk parlemen Uni Eropa yang akan diadakan pada akhir pekan depan. Ancaman kemenangan partai-partai sayap kanan di sejumlah negara anggotanya dikhawatirkan dapat menggembosi kesatuan Uni Eropa dan meningkatkan instabilitas politik kawasan.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply