Data PMI Inggris Lebih Baik Dari Ekspektasi, Sterling Meninggi

Afiliasi IB XM Broker

Pasangan mata uang GBP/USD menguat sekitar 0.5 persen ke rekor tertinggi 1.2951 dalam perdagangan sesi Eropa (21/2), menyusul rilis data Purchasing Managers’ Index (PMI) yang lebih baik dibanding ekspektasi awal. Posisi Sterling yang undervalued telah membuka peluang beli cukup menggiurkan. Akan tetapi, ketidakpastian terkait jadwal perundingan dagang Inggris-Uni Eropa masih membayangi.

Sterling Meninggi

Markit Economics melaporkan bahwa indeks PMI untuk sektor manufaktur Inggris meningkat dari 50.0 menjadi 51.9 pada bulan Februari 2020, meski sebelumnya dikhawatirkan melemah ke 49.7. Kenaikan drastis tersebut menjaga stabilitas indeks komposit pada level 53.3, meskipun skor untuk sektor Jasa melemah sedikit dari 53.9 menjadi 53.3 dalam periode yang sama.

Menurut IHS Markit, “Responden survei mencatat bahwa berkurangnya ketidakpastian politik sejak pemilu terus dikonversi menjadi peningkatan aktivitas bisnis dan kesediaan untuk para klien untuk membelanjakan uang mereka. Walaupun pertumbuhan pesanan baru mundur dari puncak 19 bulan yang dicapai pada bulan Januari, dikarenakan ekspansi lintas sektor jasa yang lebih lemah.”

Baca Juga:   USD / CAD Tergelincir Lebih Rendah Terhadap Kanada, Data AS

Terlepas dari itu, penguatan Pound dikhawatirkan hanya akan berlangsung sementara saja karena adanya beberapa faktor bearish. Pertama, Inggris dan Uni Eropa akan bertemu di meja perundingan bulan depan di tengah kontradiksi cukup besar tentang model kesepakatan perdagangan seperti apa yang akan disusun pasca brexit. Kedua, kekuatan bullish Dolar AS didorong oleh sentimen risk-off yang sulit ditangkal oleh Pound.

“Setidaknya, kejelasan tentang masa depan telah meningkat lagi untuk beberapa bulan. Efek Corona akan memutarbalik data ekonomi (global) dalam jangka pendek, sehingga mempersulit estimasi ekonomi di luar kekhawatiran terhadap virus ini. Dalam situasi seperti ini, USD akan terus menguat,” kata Jan von Gerich, pimpinan analis di Nordea Markets.

Pound relatif lebih unggul versus Euro daripada terhadap Dolar AS. Hal ini karena perekonomian Euro memiliki eksposur lebih besar di China, khususnya terkait rantai pasokan elektronik dan otomotif Jerman. Pertumbuhan ekonomi domestik Zona Euro juga jauh lebih rapuh daripada Inggris. Sementara bank sentral Inggris diperkirakan tidak akan memangkas suku bunga tahun ini, bank sentral Eropa masih menjalankan rezim suku bunga negatif.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply