Defisit Neraca Dagang Membesar, Kurs Rupiah Loyo

Bonus Welcome Deposit FBS

Referensi nilai tukar resmi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) longsor dari Rp14,538 menjadi Rp14,617 dalam perdagangan hari Senin ini (17/12), sementara Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pembengkakan defisit neraca perdagangan nasional. Kurs USD/IDR di pasar spot mata uang juga meningkat 0.29 persen ke kisaran Rp14,575, menggagalkan upaya rebound pada akhir pekan lalu.

Defisit Neraca Dagang Membesar, Kurs Rupiah Loyo

Tadi siang, Badan Pusat Statistik mengumumkan bahwa defisit neraca perdagangan Indonesia meningkat dari 1.82 Miliar menjadi 2.05 Miliar pada bulan November. Padahal, estimasi awal memperkirakan penurunan defisit menjadi 0.83 Miliar.

Pembengkakan defisit ini terutama dikarenakan penurunan pertumbuhan ekspor sebesar 3.28 persen (year-on-year), sementara impor melonjak 11.68 persen dalam periode yang sama. Hal ini menandai kegagalan upaya untuk menekan impor yang sebelumnya diharapkan dapat membantu mendongkrak nilai tukar Rupiah.

Dari luar negeri, kukuhnya posisi Dolar AS pada level tertinggi sejak pertengahan tahun 2017 menahan mata uang-mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah. Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo, minggu lalu mengatakan bahwa volatilitas Rupiah disebabkan oleh ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan yang kemungkinan akan Federal Reserve (bank sentral AS) dalam waktu dekat.

Baca Juga:   Harga Minyak Naik Pada Penurunan Stok Minyak Mentah AS

Di saat yang sama, ia menegaskan BI akan menggunakan semua instrumen yang dimilikinya untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Sebagaimana dikutip oleh Jakarta Post, Dody mengungkapkan, “Kami mencoba menstabilkan Rupiah dengan bauran kebijakan kami, intervensi pasar dan kebijakan nilai tukar.”

Dalam konteks ini, BI bisa jadi akan menghadapi tekanan yang lebih besar untuk menstabilkan kurs Rupiah pekan ini, karena diproyeksikan bakal muncul gejolak besar sehubungan dengan jadwal pengumuman suku bunga AS pada hari Kamis dini hari.

Terlepas dari itu, ada kabar baik mengenai ditandatanganinya kesepakatan dagang antara Indonesia dan empat negara Eropa pada hari Minggu lalu. Menurut Nikkei, dalam kerangka kesepakatan ini, batasan tarif dan non-tarif akan dihapuskan bagi ribuan produk yang diperdagangkan antara Indonesia dengan Swiss, Liechtenstein, Norwegia, dan Islandia. Diantaranya, Indonesia akan mendapatkan akses penuh untuk memasarkan minyak sawit di Islandia dan Norwegia, kecuali sebagai pangan ternak selain ikan.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply