Defisit Neraca Perdagangan Besar, Kurs Rupiah Anjlok

Bonus Welcome Deposit FBS

Referensi nilai tukar resmi di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) tercatat melemah dari Rp14,835 ke Rp14,859 dalam perdagangan hari Senin (17/September), setelah defisit neraca perdagangan Indonesia dilaporkan lebih besar dari ekspektasi pada periode Agustus 2018. Sementara itu, pemantauan platform FX_IDC menunjukkan kurs USD/IDR melonjak 0.51 persen ke Rp14,875; menggagalkan penguatan yang telah dicapai selama tiga hari sepekan sebelumnya. Buruknya neraca perdagangan dikhawatirkan akan mengancam neraca transaksi berjalan (Current Account) serta stabilitas pertumbuhan GDP Indonesia.

Defisit Neraca Perdagangan Indonesia Membengkak, Kurs Rupiah Anjlok

Tadi siang, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa defisit neraca perdagangan menurun dari 2.03 Miliar Dolar AS pada periode Juli menjadi 1.02 Miliar Dolar AS. Namun, angka tersebut lebih besar dibanding estimasi pasar yang mengharapkan defisit turun ke 0.68 Miliar saja, sekaligus menggenapkan defisit tahun berjalan mencapai USD4.09 Miliar.

Menurut Kepala BPS, Suhariyanto, defisit neraca perdagangan terjadi lantaran nilai ekspor hanya USD15.82 Miliar, atau menurun 2.9 persen dibanding bulan Juli 2018. Di sisi lain, meski impor telah turun 7.97 persen dibanding Juli, tetapi nilainya masih jauh lebih besar ketimbang ekspor, yaitu USD16.84 Miliar.

Baca Juga:   Berita Saham BBRI SENIN 05/03/2018

Penurunan ekspor kali ini terjadi pada sektor migas maupun non-migas. Dalam basis bulanan, terjadi penurunan cukup dalam pada sektor pertambangan akibat mengendurnya pengiriman batu bara dan bijih tembaga; walaupun sektor pertanian masih mengalami pertumbuhan positif. Dari sisi impor, penurunan terjadi pada berbagai sektor, termasuk impor minyak mentah dan gas, barang konsumsi, serta barang modal dan barang baku (penolong).

Kabar buruk dari data neraca perdagangan Indonesia ini sedikit banyak turut berimbas ke pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mengukur performa bursa efek Indonesia (BEI), mengalami longsor 1.80 persen ke level 5,824.26 pada penutupan sesi II hari ini.

Kemerosotan dialami oleh kesepuluh sektor saham dalam BEI, khususnya Industri Dasar, Infrastruktur, dan Manufaktur. Sektor Industri Dasar anjlok 2.49 persen, Infrastruktur melorot 2.5 persen, sedangkan Manufaktur turun 2.24 persen. Saham-saham sektor Finansial yang biasanya tangguh pun ikut dilanda aksi jual, dikarenakan meningkatnya kekhawatiran akan risiko kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL). Sejumlah saham perbankan yang dilepas investor antara lain BMRI, BBNI, BBRI, BNGA, dan BBCA.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply