Dolar AS Anjlok Pasca Kesepakatan Tentatif Brexit

Bonus Welcome Deposit FBS

Indeks Dolar AS (DXY) merosot 0.71 persen ke level 96.42, sehubungan dengan penguatan mata uang-mata uang berisiko lebih tinggi, seperti Poundsterling, Euro, Dolar-dolar Komoditas, serta mata uang negara-negara berkembang. Hal ini dipicu oleh ekspektasi akan dinaikkannya stimulus fiskal China serta tercapainya kesepakatan tentatif di bidang jasa antara Uni Eropa dan Inggris dalam negosiasi Brexit.

Dolar AS Anjlok Pasca Kesepakatan Tentatif Brexit

Pada pertengahan sesi perdagangan Eropa hari Kamis ini (1/November), EUR/USD melonjak 0.80 persen ke level 1.1400, GBP/USD meroket 1.25 persen ke level 1.2925, AUD/USD melesat 1.53 persen ke 0.7180, NZD/USD terbang 1.70 persen ke 0.6628, sementara USD/CAD terperosok 0.52 persen ke level 1.3088. Rubel Rusia, Lira Turki, dan Rand Afrika Selatan juga masing-masing menguat hingga 1.7 persen. Dinamika dan volatilitas tinggi ini mengemuka, selaras dengan peningkatan minat risiko investor global.

Para analis yang diwawancarai Reuters menyatakan ada dua faktor yang mempengaruhi pelemahan Dolar AS saat ini. Pertama, aksi beli Dolar AS besar-besaran pada bulan lalu langsung terhenti begitu kalender berpindah ke bulan November. Kedua, ekspektasi bahwa China akan meningkatkan stimulus fiskalnya telah melonjakkan nilai tukar mata uang Dolar Australia, Dolar New Zealand, serta sejumlah mata uang negara berkembang yang menjadi mitra dagang terdekat negeri Panda.

Baca Juga:   Outlook Mingguan AUD / USD : 27 - 31 Oktober 2014

Di samping itu, tercapainya kesepakatan tentatif antara Inggris dan Uni Eropa mengenai masa depan sektor jasa pasca Brexit berhasil mendongkrak Pounds dari kondisi jenuh jual.

“Setelah (menempuh) satu bulan yang cukup sulit bagi aset-aset berisiko pada Oktober, mendadak kami menyaksikan kekuatan menyeluruh di pasar negara berkembang dan mata uang dengan beta lebih tinggi, sebagian karena pengumuman stimulus China,” demikian disampaikan pakar dari bank investasi ING dalam catatan untuk klien mereka.

Meski demikian ING memperingatkan, “Dengan kombinasi ancaman perang dagang, pengetatan kebijakan moneter Fed, serta pertumbuhan ekonomi AS melampaui rekan-rekan negara G10 lainnya, kami mengekspektasikan reli mata uang negara berkembang terhadap USD untuk bertahan lama.”

Salah satu faktor yang saat ini diwaspadai oleh para analis adalah jadwal rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat pada hari Jumat yang mencakup Nonfarm Payroll (NFP), Tingkat Pengangguran, dan Pertumbuhan Gaji. Apabila data ketenagakerjaan melampaui ekspektasi, maka bisa memicu investor kembali mengkoleksi Greenback.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply