Dolar AS Bertahan Di Level Tertinggi Dua Pekan

Bonus Welcome Deposit FBS

Indeks Dolar AS (DXY) diperdagangkan nyaris statis pada kisaran 96.35 hingga pertengahan sesi Eropa hari Senin ini (21/1), setelah meroket hingga level tertinggi dua pekan pada akhir minggu lalu. Posisi Dolar AS cenderung stabil terhadap mayoritas mata uang mayor di tengah minimnya data berdampak tinggi yang dirilis hari ini karena bank-bank Amerika Serikat ditutup sehubungan dengan hari Martin Luther King, Jr.

Dolar AS Bertahan Di Level Tertinggi Dua Pekan

Akhir pekan lalu, data Produksi Industri Amerika Serikat bulan Desember dilaporkan meningkat 0.3 persen, melampaui ekspektasi pada laju 0.2 persen (Month-over-Month). Produksi Manufaktur juga meroket 1.1 persen dalam periode yang sama, jauh di atas ekspektasi yang dipatok pada 0.3 persen. Kedua data tersebut mendukung apresiasi Dolar AS kembali, walaupun indeks Sentimen Konsumen Michigan (preliminer) merosot dari 98.3 ke 90.7 pada bulan Januari.

Sementara itu, sejumlah risiko non-data ekonomi masih menjadi pusat perhatian pelaku pasar. Diantaranya harapan akan memudarnya ketegangan perdagangan antara AS dan China, optimisme terkait Brexit, dan kecemasan mengenai komunikasi para pejabat Federal Reserve yang makin dovish. Namun, situasi seperti ini justru mendukung penguatan Dolar AS.

Baca Juga:   Notulen FOMC Sesuai Ekspektasi, Dolar AS Stabil Di Level Tertinggi

“Indeks Dolar jelas berada pada jalur pemulihan. Mata uang ini terkungkung pada tren menurun pada awal Januari, tetapi kini kembali dibeli terhadap rekan-rekannya seperti Yen, Euro, Pound, dan Aussie,” kata Junichi Ishikawa, pakar strategi forex senior di IG Securities, pada Reuters.

Lanjutnya lagi, “Apakah (suasana) ‘risk on’ yang saat ini mendukung Dolar akan berlanjut, tergantung pada laporan pendapatan korporasi AS. (Kemungkinan) AS dan China terpecah lagi soal isu perdagangan dan perpolitikan AS masih menjadi faktor-faktor risiko potensial paling utama.

Konflik perdagangan AS-China telah mengakselerasi perlambatan ekonomi China. Pada laporan yang dirilis hari ini, Gross Domestic Product (GDP) China hanya meningkat 6.4 persen (Year-on-Year) pada kuartal keempat tahun 2018. Angka tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar, tetapi merupakan laju pertumbuhan GDP paling lambat sejak tahun 1990.

Di sisi lain, banyak korporasi AS yang menjadikan China sebagai salah satu pangsa pasar utama serta memiliki hubungan dagang tertentu dengan negeri Panda tersebut. Sejumlah pihak khawatir kalau laporan pendapatan korporasi raksasa AS yang dirilis musim ini bakal terpukul akibat perlambatan ekonomi China, walaupun laporan keuangan beberapa perbankan minggu lalu relatif cukup memuaskan.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply