Dolar AS Ditekan Data Ekonomi, Ditopang Minat Risiko Pasar

Bonus Welcome Deposit FBS

Indeks Dolar AS (DXY) bergerak dalam kisaran terbatas di sekitar 97.10 pada sesi Asia dan Eropa hari Jumat ini (15/2), dan belum mampu menghapus pelemahan yang dialaminya akibat rilis data penjualan eceran AS kemarin. Greenback menunjukkan performa beragam terhadap mata uang mayor, menjelang rilis serangkaian data ekonomi AS lainnya pada sesi New York.

Dolar AS Ditekan Data Ekonomi

Data penjualan eceran yang dirilis hari Kamis menunjukkan penurunan paling tajam sejak bulan September 2009. Hal ini mengindikasikan buruknya sektor konsumsi yang mencakup dua pertiga perekonomian Amerika Serikat. Akibatnya, data tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve takkan merubah suku bunga dalam tahun ini.

“Jeleknya data penjualan eceran telah memperkuat pendapat bahwa Fed kemungkinan besar bakal membiarkan suku bunga tetap pada tahun ini,” kata Nick Twidale, pimpinan operasional di Rakuten Securities, Australia. Lanjutnya, “(Jatuhnya) Dolar/Yen mengindikasikan sentimen investor untuk menjauhi risiko saat ini.”

Pasangan mata uang USD/JPY anjlok 0.5 persen kemarin, dan sempat melemah sekitar 0.2 persen pada perdagangan sesi Asia. Saat berita ditulis, USD/JPY telah menanjak ke kisaran 110.42, tetapi masih menunjukkan indikasi bearish.

Baca Juga:   Analisa EURUSD SENIN 16/12/2013 dengan ASI (Analisa Simple)

Sementara itu, pelaku pasar juga masih memerhatikan kasak-kusuk terkini terkait perundingan perdagangan AS-China. Sebelumnya, pasar telah girang setelah mendengar penilaian positif Presiden AS Donald Trump mengenai perundingan tersebut. Namun, nuansa positif tersebut dihapus oleh komentar terbaru dari penasehat ekonomi Gedung Putih, Larry Kudlow.

Kudlow menepis rumor bahwa Trump tengah mempertimbangkan untuk mengundurkan deadline bagi perundingan tersebut yang sedianya harus selesai pada 1 Maret mendatang. Ia mengungkapkan adanya jadwal pertemuan antara dua perwakilan AS dengan Presiden China Xi Jinping, tetapi Trump tidak meneken penundaan deadline.

Di sisi lain, mata uang-mata uang mayor lain tak menunjukkan indikasi bullish yang cukup solid untuk menantang dominasi Dolar AS. Poundsterling nampak berupaya rebound setelah rilis data penjualan eceran Inggris tadi sore, tetapi masih dibebani ketidakpastian Brexit. Euro juga loyo karena pekatnya kekhawatiran investor dan trader mengenai gejala-gejala stagnasi di Jerman dan resesi di Italia.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply