Dolar AS Gamang Gara-Gara Tiongkok Batalkan Negosiasi Dagang

Bonus Welcome Deposit FBS

Hingga awal perdagangan sesi New York hari Senin ini (24/September), Dolar AS belum mampu bangkit dari keterpurukan di level terendah sejak Juli 2018. Indeks Dolar AS (DXY) terpantau sideways dekat level 94.00, sementara mata uang-mata uang mayor lainnya berupaya bangkit.

Dolar AS Gamang gara-gara Tiongkok Batalkan Negosiasi Dagang

Saat berita ditulis, pasangan mata uang EUR/USD bergerak ranging di kisaran 1.1755, sementara USD/JPY juga loyo dekat 112.60 karena bursa-bursa Jepang sedang libur perayaan pertengahan musim gugur. GBP/USD menjadi Top Scorer dengan melonjak 0.56 persen; tetapi AUD/USD dan NZD/USD terhantam oleh kabar bahwa Tiongkok membatalkan negosiasi perdagangan dengan Amerika Serikat.

Media internasional terkemuka, Wall Street Journal, melaporkan bahwa Tiongkok sedianya akan mengadakan negosiasi perdagangan tingkat menengah dengan AS, bersamaan dengan kunjungan Wakil Perdana Menteri Liu He ke Washington pekan ini. Namun, jadwal tersebut sekonyong-konyong dibatalkan.

“Pintu diskusi mengenai perdagangan selalu terbuka, tetapi negosiasi harus diadakan dalam kondisi (ada) upaya menghargai yang timbal balik,” ungkap kantor berita Xinhua. Lebih lanjut lagi, dikatakan bahwa “(negosiasi) tidak dapat diadakan di bawah ancaman tarif impor.”

Baca Juga:   BERITA SAHAM JUMAT 11/10/2019 - PT TIMAH KOMITMEN JALANKAN BISNIS DENGAN HORMATI HAM

Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump menerapkan tarif sebesar 10 persen pada USD200 Milyar produk Tiongkok lagi, dan mengancam akan menaikkannya hingga 25 persen pada akhir tahun. Merespon langkah tersebut, Beijing menerapkan 10 persen tarif juga atas USD60 Milyar produk AS. Bea impor 10 persen yang dipasang Tiongkok itu lebih rendah dari ekspektasi pasar yang sebesar 25 persen, sehingga sempat membuat pelaku pasar mengira kalau ketegangan sudah mereda.

Pembatalan negosiasi mendadak ini mengindikasikan bahwa ketegangan antara kedua negara belum akan selesai dalam waktu dekat. Namun, pekan ini, perhatian investor dan trader kemungkinan akan lebih berfokus pada rapat dewan kebijakan moneter bank sentral AS (FOMC Meeting) yang akan diadakan tanggal 25-26 September.

Dalam pengumuman pasca rapat pada 27 September dini hari (Waktu Indonesia Barat), FOMC diekspektasikan akan mengumumkan kenaikan suku bunga lagi sebesar 25 basis poin. Pasar telah lama memperhitungkan kebijakan ini, sehingga jika terealisasikan maka takkan berdampak besar. Sebaliknya, jika sampai batal terwujud, maka Dolar AS bisa terpukul makin dalam.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply