Dolar AS Jatuh Pasca NFP, Tapi Pengangguran Stagnan

Bonus Welcome Deposit FBS

Indeks Dolar AS (DXY) sempat tergelincir hingga kisaran 96.55 setelah rilis data Nonfarm Payroll (NFP) yang mengecewakan. Namun, saat berita ditulis sekitar 1 jam setelah event tersebut, DXY sudah merangkak naik lagi ke kisaran harga pembukaan hari ini di sekitar 96.80.

Dolar AS terpantau menunjukkan performa beragam terhadap mata uang mayor lainnya. Pasangan mata uang EUR/USD masih sideways dekat kisaran 1.1380, GBP/USD anjlok 0.20 persen ke 1.2760, USD/JPY menanjak 0.10 persen ke 112.75, sementara USD/CAD merosot 0.55 persen ke kisaran 1.3310.

Dolar AS Jatuh Pasca NFP

US Bureau of Labor Statistics melaporkan bahwa Nonfarm Payroll hanya mencapai 155k pada bulan November. Angka ini lebih rendah dari estimasi awal pada 200k. Sementara itu, data periode Oktober juga direvisi turun ke 237k. Data gaji rata-rata per jam juga tercatat hanya tumbuh 0.2 persen dalam bulan November, lebih rendah dari estimasi pada 0.3 persen; sedangkan data Oktober direvisi turun ke 0.1 persen saja.

Dalam rangkaian data ketenagakerjaan yang dipublikasikan AS malam ini, perkembangan positif hanya ditorehkan oleh payroll sektor Manufaktur yang meningkat dari 26k menjadi 27k (versus estimasi 20k). Selain itu, tingkat pengangguran yang tetap pada level 3.7 persen juga dianggap sebagai salah satu faktor yang akan membatasi imbas buruk data NFP kali ini.

Baca Juga:   BERITA SAHAM KAMIS 22/11/2018 - INDOSAT : 5G JADI TREN OPERATOR TELEKOMUNIKASI GLOBAL

James Knightley, pimpinan ekonom internasional di ING mencatat, “Bagaimanapun, pasar semestinya tak terlalu kecewa karena faktanya tak ada cukup pekerja (yang berkualifikasi) hampir pasti merupakan faktor utama. Sebenarnya, National Federation of Independent Businesses terus menerus melaporkan bahwa proporsi perusahaan yang tak dapat mengisi lowongan (karena kurangnya calon karyawan sesuai kualifikasi yang dibutuhkan) berada pada level tertinggi sepanjang masa. Pertumbuhan pekerjaan terakselerasi pada tahun 2018 ke rata-rata 206k per bulan versus 182k pada tahun 2017, tetapi akan melambat tahun depan, sebagiannya karena sebab ini. Sebaliknya, tekanan gaji akan terus meningkat karena kurangnya karyawan (yang berkualifikasi memadai).”

Di sisi lain, kekhawatiran mengenai probabilitas kenaikan suku bunga lanjutan boleh jadi akan terus membebani Dolar AS. Pasalnya, walaupun bank sentral AS diekspektasikan tetap menaikkan suku bunga pada rapat kebijakan yang digelar tanggal 18-19 mendatang, tetapi proyeksi kenaikan suku bunga sebanyak dua kali pada tahun 2019 kemungkinan dihapuskan dalam pernyataan kebijakannya.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply