Dolar AS Lengser, Ditekan Kebangkitan Negara Berkembang

Bonus Welcome Deposit FBS

Dolar AS terus tertekan pada perdagangan sesi Asia dan Eropa hari Jumat (14/September), setelah anjlok parah pada sesi sebelumnya akibat data inflasi konsumen yang memburuk untuk bulan Agustus. Kebangkitan mata uang-mata uang negara berkembang turut menekan Greenback di tengah masih tingginya tensi perang dagang dengan Tiongkok.

Saat berita ditulis menjelang pembukaan sesi New York, indeks Dolar AS (DXY) diperdagangan minus 0.04 persen ke level 94.51. Posisi Dolar AS terpantau defensif versus mata uang-mata uang mayor. NZD/USD menunjukkan kinerja terbaik dengan naik 0.15 persen ke 0.6578, sementara Major Pairs lainnya nyaris stagnan menantikan rilis data Penjualan Ritel nanti malam (19:30 WIB).

Dolar AS Lengser Ditekan Kebangkitan Negara Berkembang

Kemarin malam, US Bureau of Labor Statistics menyatakan bahwa Consumer Price Index (CPI) hanya naik 0.2 persen dalam bulan Agustus. Dalam basis tahunan, indikator inflasi konsumen tersebut melorot dari 2.9 persen menjadi 2.7 persen. Data Core CPI yang tak memperhitungan harga produk volatile makanan dan energi juga hanya menanjak 0.1 persen dalam bulan Agustus, gagal mencapai kenaikan 0.2 persen seperti bulan Juli. Akibatnya, keberlangsungan inflasi AS yang melandasi rencana kenaikan suku bunga tahun ini pun dipertanyakan.

Baca Juga:   Berita Saham BNBR KAMIS 22/02/2018

“Dolar melemah, terutama karena lambannya CPI Amerika Serikat,” ujar Masafumi Yamamoto, pimpinan pakar strategi forex di Mizuho Securities, pada CNBC.

Di sisi lain, mata uang-mata uang negara berkembang seperti Rupiah, Rand Afrika Selatan, dan Peso Meksiko, mempertahankan penguatannya versus Dolar AS hari ini berkat meluasnya kelegaan pasar terkait krisis Turki. Memenuhi harapan pasar, bank sentral Turki akhirnya mengumumkan kenaikan suku bunga sebanyak 625 basis poin ke 24 persen, sehingga mendongkrak kembali nilai Lira.

Dengan menaikkan suku bunga, bank sentral Turki secara tidak langsung mendeklarasikan independensinya dari rezim Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang sebelumnya menentang kebijakan tersebut. Pada gilirannya, hal ini menempatkan bank sentral pada posisi kritis.

“Kenaikan suku bunga oleh bank sentral Turki layak disanjung, tetapi poin pentingnya ke depan adalah bagaimana pandangan Presiden Erdogan mengenai pengetatan kebijakan moneter,” ujar Kota Hirayama, ekonom senior di SMBC Nikko Securities. Lanjutnya lagi, “Naif apabila kita mengasumsikan Erdogan akan terus menghormati independensi bank sentral. Bank sentral Turki akan kehilangan kredibilitas lagi dan kenaikan suku bunganya akan sia-sia jika kebijakan moneter diganggu oleh politik.”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply