Dolar AS Makin Tertekan Karena Kejatuhan Yield Obligasi

Bonus Welcome Deposit FBS

Indeks Dolar AS merosot selama sesi Asia hari Selasa ini (4/Desember) dan masih berada di posisi -0.22 persen pada 96.73 saat pembukaan sesi Eropa. Selain dikarenakan peningkatan minat risiko pasca pertemuan G-20, pergerakan ini juga didorong oleh kejatuhan yield obligasi AS ke level terendah tiga bulan.

Dolar AS Makin Tertekan Karena Kejatuhan Yield Obligasi

Pelaku pasar gelisah mengenai kemungkinan kalau siklus kenaikan suku bunga Federal Reserve bakal dihentikan dalam waktu dekat. Apalagi, tanda-tanda resesi mulai nampak pada bentuk kurva yield obligasi.

Yield Obligasi Pemerintah AS (US Treasury) bertenor 10-tahunan jatuh ke level 2.94 persen, level terendahnya sejak pertengahan September lalu. Sementara itu, selisih antara yield obligasi 10-tahunan dan 2-tahunan menyempit ke celah terkecil sejak Juli 2007. Kurva bagi yield obligasi 3-tahunan dan 5-tahunan juga berbalik untuk pertama kalinya sejak 2007, serta tercatat pada angka -1.2 basis poin.

Kurva yield obligasi 2-tahunan dan 10-tahunan merupakan salah satu fokus penting bagi investor, karena ada anggapan kalau angkanya menjadi negatif maka bisa menjadi prediktor bagi resesi di AS. Angka negatif itu dapat muncul jika yield pada obligasi dengan tenor lebih tinggi menjadi lebih kecil ketimbang yield pada obligasi yang bertenor lebih rendah.

Baca Juga:   Sterling Lebih Rendah Terhadap Dolar Sedikit Lebih Kencang

“Kejatuhan yield AS merupakan sesuatu yang negatif bagi Dolar, khususnya terhadap mata uang mayor,” ujar Rodrigo Catril, pakar strategi mata uang senior di NAB, pada Reuters. Selain itu, ia menambahkan bahwa yield obligasi AS mendekati level suppot teknikal yang krusial. Jika level itu ditembus, maka bisa meningkatkan tekanan atas yield obligasi AS dan nilai tukar Dolar.

Di sisi lain, kelemahan Dolar AS juga dipicu oleh “gencatan senjata” antara AS dan China pada ajang G-20 akhir pekan lalu. Kelegaan pasar diarahkan pada peningkatan minat beli aset-aset berisiko lebih tinggi, sehingga aset Safe Haven seperti Dolar AS, Yen, dan Franc Swiss cenderung ditinggalkan.

Terlepas dari itu, banyak pihak meragukan mengenai berapa lama “gencatan senjata” tersebut akan berlangsung. Masalahnya, Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menyebarkan informasi berbeda mengenai klausa apa saja yang telah disetujui antara keduanya.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply