Dolar AS Masih Memerah Meski NFP Oktober Menggembirakan

Bonus Welcome Deposit FBS

Indeks Dolar AS (DXY) bertahan pada area bearish pasca rilis data Nonfarm Payroll (NFP) pada hari Jumat ini (2/November), meskipun laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat tersebut mencatat rekor yang bagus. Saat berita ditulis sekitar 30 menit setelah rilis NFP, DXY berada pada kisaran -0.05 persen di level 96.25, walaupun posisi Greenback versus mata uang mayor lainnya cenderung beragam.

Dolar AS Masih Memerah Meski NFP Oktober Menggembirakan

Pasangan mata uang EUR/USD masih tercatat meningkat 0.14 persen pada 1.1422, serta AUD/USD dan NZD/USD masing-masing masih menorehkan kenaikan 0.10 persen dalam perdagangan intraday. Di sisi lain, USD/JPY meroket 0.26 persen ke level 112.99 dan GBP/USD stagnan di sekitar level 1.2999.

Data Nonfarm Payrolls (NFP) yang dirilis malam ini menunjukkan kenaikan sebesar 250,000 dalam bulan Oktober. Angka tersebut lebih tinggi dari ekspektasi yang dipatok pada 190,000, maupun perolehan periode sebelumnya yang direvisi turun jadi 118,000 saja. Tingkat Pengangguran AS tetap pada rekor terendah 3.7 persen, sesuai dengan ekspektasi pasar.

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (Participation Rate) bahkan mengalami peningkatan dari 62.7 persen menjadi 62.9 persen. Sementara itu, gaji rata-rata per-jam (Average Hourly Earnings) selaras dengan perkiraan awal, yaitu tumbuh 0.2 persen (Month-over-Month), atau meningkat dari 2.8 persen ke 3.1 persen (Year-on-Year).

Baca Juga:   Dolar Melemah Di Sesi Asia Karena Perhatian Berubah Menuju FED

Laporan perdagangan yang dipublikasikan oleh lembaga berbeda pun cenderung memuaskan. Ekspor dikabarkan meningkat dari 209.45 Miliar menjadi 212.57 Miliar dan impor naik dariĀ 262.75Miliar menjadi 266.58 Miliar, sehingga mengesankan minimnya imbas perang dagang bagi negeri Paman Sam.

Secara keseluruhan, data-data tersebut tersebut mengokohkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada bulan Desember mendatang. Namun, untuk sementara ini, pelaku pasar agaknya masih condong mengincar aset-aset yang lebih berisiko, termasuk saham dan mata uang-mata uang komoditas.

Apresiasi bagi aset-aset berisiko sudah dimulai kemarin, setelah media melaporkan bahwa China akan meluncurkan stimulus fiskal tambahan guna menanggulangi tanda-tanda perlambatan ekonomi. Sesumbar Presiden AS Donald Trump di media sosial bahwa sebuah diskusinya dengan Presiden China Xi Jinping berlangsung lancar juga memberikan kesan bahwa konflik perdagangan antara kedua negara akan segera menemui titik terang. Akibatnya, saham-saham Wall Street meroket dan rival-rival Dolar AS mempertahankan upaya rebound; sementara Dolar AS masih cenderung tertekan.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply