Dolar AS Melemah Di Tengah Kenaikan Harga Minyak Mentah

Bonus Welcome Deposit FBS

Indeks Dolar AS (DXY) melemah sekitar 0.13 persen ke kisaran 96.92 pada awal sesi Eropa hari Selasa ini (9/4), seiring menguatnya mata uang-mata uang komoditas yang didongkrak oleh berlanjutnya kenaikan harga minyak mentah. Saat berita ditulis, harga minyak mentah tipe WTI telah tembus level USD64.50 per barel, sementara Brent diperdagangkan pada kisaran USD71.70 per barel.

Dolar AS Melemah Di Tengah Kenaikan Harga Minyak Mentah

Sejumlah perkembangan terbaru mendorong penguatan harga minyak ke level tertinggi lima bulannya. Pelaku pasar mengekspektasikan kalau suplai minyak global bakal makin ketat sehubungan dengan memanasnya kembali konflik bersenjata di Libya, penerapan kuota produksi oleh OPEC, serta diberlakukannya sanksi Amerika Serikat atas Iran dan Venezuela. Berbagai masalah tersebut mengalihkan perhatian pasar dari kebuntuan masalah brexit dan negosiasi dagang AS-China.

“Topik seperti perundingan perdagangan AS-China dan brexit jadi agak usang dan tak lagi menyediakan banyak insentif bagi pasar mata uang. Dalam kondisi seperti itu, reli harga minyak mentah memberikan fokus lain bagi pasar,” ujar Bart Wakabayashi dari State Street Bank, Tokyo.

Baca Juga:   Yen Memegang Lemah Di Sesi Asia Sebagaimana Sinyal Tumbuh Untuk Perubahan Kebijakan BoJ

Kenaikan harga minyak mentah tersebut membangkitkan kembali gairan beli atas comdoll, sehingga pasangan mata uang AUD/USD naik sekitar 0.3 persen ke level 0.7147 dan USD/CAD melorot 0.10 persen ke level 1.3301. Di sisi lain, Dolar AS masih dijerat oleh lambannya laju pertumbuhan gaji yang dilaporkan dalam paket data ketenagakerjaan pada akhir pekan lalu.

“Kekuatan Dolar memuncak pada akhir pekan lalu, ketika data ketenagakerjaan AS menunjukkan bahwa laju kenaikan gaji telah melambat. Mata uang ini belum berhasil menemukan pijakan sejak saat itu,” kata Shin Kadota, pakar strategi senior di Barclays Tokyo, kepada Reuters. Lanjutnya, “Dan kenaikan yield obligasi pemerintah AS terbaru tidak banyak mendongkrak Dolar, karena levelnya masih tetap rendah dalam perhitungan absolut.”

Pada akhir sesi New York kemarin, yield obligasi AS bertenor 10-tahunan naik kembali ke 2.52 persen, makin jauh dari level terendah 15-bulan pada kisaran 2.34 persen. Namun demikian, angka yield masih jauh di bawah level tertinggi 2.8 persen yang sempat tercapai pada awal bulan Maret.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply