Dolar AS Melesat Di Tengah Kekhawatiran Soal Ekonomi Global

Bonus Welcome Deposit FBS

Dolar AS menguat pesat terhadap mata uang-mata uang mayor lainnya pada perdagangan hari Selasa (9/Oktober), walaupun sempat terpukul akibat buruknya data Non-farm Payroll (NFP) yang dirilis akhir pekan lalu. Indeks Dolar AS (DXY) melesat 0.32 persen ke level 96.06, karena dikarenakan peningkatan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat serta meningkatnya kekhawatiran mengenai outlook ekonomi global.

Dolar AS Melesat Di Tengah Kekhawatiran Soal Ekonomi Global

Pasangan mata uang EUR/USD merosot 0.38 persen ke 1.1446, level terendah sejak Agustus 2018. Sementara itu, GBP/USD melorot 0.30 persne ke 1.3053 dan USD/JPY cenderung stagnan di kisaran 113.16. Permintaan atas Dolar AS didorong naik oleh peningkatan yield obligasi pemerintah AS, sementara aset-aset Safe Haven juga mengalami kenaikan permintaan lantaran kekhawatiran pasar sehubungan laporan terbaru dari IMF.

Yield Obligasi AS (US Treasury) bertenor 10 tahunan telah mencatat rekor tertinggi baru dalam tujuh tahun terakhir. Hal ini diakibatkan karena ekspektasi akan dilakukannya kenaikan suku bunga secara lebih agresif oleh Federal Reserve, menyusul serangkaian pernyataan hawkish dari pimpinan bank sentral AS tersebut pada minggu lalu.

Baca Juga:   Outlook Mingguan USD / CAD : 11 - 15 Agustus 2014

Di sisi lain, Dolar AS dan Yen yang berstatus sebagai mata uang Safe Haven terpengaruh pula oleh peningkatan minat penghindaran risiko di kalangan pelaku pasar. Pasalnya, hari ini International Monetary Fund (IMF) mengumumkan peringatan bahwa konflik perdagangan (khususnya antara Tiongkok dan AS) sudah mulai menunjukkan dampak serius bagi perekonomian global.

IMF menurunkan outlook ekonominya bagi Amerika Serikat, Tiongkok, Zona Euro, dan Inggris. Selain itu, mereka juga mengungkapkan bahwa ekspektasi pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2018 dan 2019 kini hanya 3.7 persen, lebih rendah dari 3.9 persen pada proyeksi sebelumnya. Secara khusus, bila presiden Donald Trump merealisasikan semua ancamannya, maka output nasional akan anjlok sebanyak lebih dari 1.6 persen di Tiongkok dan lebih dari 0.9 persen di AS.

Di samping itu, IMF menyebut bahwa kenaikan suku bunga yang lebih tajam juga mengancam pertumbuhan negara-negara berkembang, karena dapat memacu pelarian dana ke luar negeri.

“Ada kabut di ufuk. Pertumbuhan terbukti tak seseimbang yang kami harapkan,” ungkap pimpinan ekonom IMF, Maurice Obstfeld, pada wartawan menjelang sebuah pertemuan penting di Bali, “Bukan hanya beberapa risiko yang kami ketahui pada pertemuan WEO sebelumnya telah terwujud, kemungkinan kejutan negatif lebih lanjut bagi perkiraan pertumbuhan kami pun meningkat.”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply