Dolar AS Menguat Didukung Konflik Dagang Dan Data NFP

Bonus Welcome Deposit FBS

Dolar AS menguat terhadap sebagian besar mata uang mayor pada perdagangan sesi Asia hari Senin ini (10/September), setelah data ketenagakerjaan (Non-farm Payroll/NFP) dilaporkan mengungguli ekspektasi pada Jumat lalu. Eskalasi konflik perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok turut mendukung Greenback, karena sejauh ini AS belum terdampak negatif oleh konflik tersebut.

Menjelang pembukaan sesi Eropa, Indeks Dolar AS (DXY) telah menanjak 0.22 persen ke 95.56. Pasangan mata uang EUR/USD melorot 0.17 persen ke 1.1532, GBP/USD turun 0.14 persen ke 1.2900, NZD/USD melandai 0.13 persen ke 0.6524, sementara USD/CAD naik 0.20 persen ke 1.3191. Diantara mata uang-mata uang mayor, hanya Dolar Australia dan Yen Jepang yang mampu bertahan versus Greenback.

Dolar AS Menguat Didukung Konflik Dagang dan Data NFP

Pada hari Jumat, data ketenagakerjaan Amerika Serikat untuk bulan Agustus dilaporkan meningkat lebih dari estimasi awal. Bureau of Labor Statistics mengumumkan bahwa Non-farm Payroll meningkat dari 147,000 ke 201,000 pada bulan Agustus, lebih tinggi dibanding estimasi awal yang dipatok pada 190,000 saja. Rata-rata gaji per-jam juga meningkat dari 2.7 persen menjadi 2.9 persen (Year-on-Year).

Baca Juga:   Kata Fed Release Rencana Batasi Kegiatan Komoditas Bank

Tak lama kemudian, Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan komentar kontroversial. Ia menyatakan siap menerapkan tarif impor atas semua barang buatan Tiongkok yang didatangkan ke Amerika Serikat. Selain saat ini tengah mengambil ancang-ancang akan menerapkan bea atas impor senilai USD200 Miliar, ia juga menyiratkan dapat mengaplikasikan bea serupa atas barang-barang Tiongkok senilai USD267 Miliar lagi setelahnya.

“Tarif (impor) lebih lanjut kemungkinan akan mengakibatkan Yuan Tiongkok melemah dan Dolar AS menguat, dan saya kira mata uang-mata uang negara berkembang akan jatuh merespon hal itu,” ujar Minori Uchida, pimpinan strategi mata uang di MUFG Bank. Lanjutnya lagi, “Apabila mata uang negara berkembang di Asia jatuh, maka mata uang negara berkembang lainnya kemungkinan ikut jatuh juga. Ketika atmosfer sudah jadi risk-off, Yen boleh jadi (akan) menguat.”

Senada dengan Uchida, Masafumi Yamamoto dari Mizuho Securities mengungkapkan, “Apabila ada tanda-tanda bahwa ekonomi AS akhirnya dihantam oleh langkah proteksionisnya sendiri, saat itulah saya kira akan dimulai aksi penghindaran risiko besar-besaran… Setidaknya ini akan mengakibatkan pelemahan Dolar terhadap Yen”. Yamamoto juga mengingatkan bahwa pasar belum sepenuhnya memperhitungkan dampak tarif impor AS terhadap semua barang dari Tiongkok.

Baca Juga:   Keuntungan GBP / USD Menyerah Setelah Komentar Carney

Sebelum ini AS sudah menerapkan bea impor atas sebagian barang asal Tiongkok lainnya, dan dibalas pula oleh Beijing dengan memasang tarif atas barang-barang AS yang didatangkan ke negeri Tirai Bambu. Namun, aksi balas-membalas ini nampaknya baru berdampak pada Tiongkok dengan mayoritas data ekonomi dalam sebulan terakhir meleset dari ekspektasi, dan belum nampak imbasnya dalam data-data ekonomi AS. Sebagaimana nampak pada data ketenagakerjaan bulan Agustus, rata-rata haji justru mengalami peningkatan tahunan tertinggi dalam lebih dari sembilan tahun terakhir.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply