Dolar AS Menguat Pasca Pidato Trump Soal Bea Impor China

Bonus Welcome Deposit FBS

Dolar AS reli pada perdagangan hari Selasa ini (27/November), setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa ia akan melanjutkan penerapan bea impor atas semua barang yang didatangkan dari China. Hal ini dikhawatirkan akan meningkatkan konflik perang dagang, sehingga menyusutkan sentimen risiko pasar dan mendorong Dolar AS menguat.

Saat berita ditulis pada awal sesi New York, Indeks Dolar AS (DXY) telah melandai dari level tertinggi harian 97.28 ke level 97.11, tetapi masih pada kisaran teratas dalam dua pekan. Sementara itu, EUR/USD cenderung sideways di kisaran 1.1330 dan GBP/USD merosot 0.36 persen ke 1.2763. USD/JPY statis di kisaran 113.55 karena peningkatan minat beli Dolar AS diiringi oleh minat beli atas aset Safe Haven lainnya, termasuk Yen.

Dolar AS Menguat Pasca Pidato Trump

Presiden AS Donald Trump mengatakan pada media Wall Street Journal bahwa ia kemungkinan akan melanjutkan rencana kenaikan tarif atas USD200 Miliar impor China dari 10 persen menjadi 25 persen. Pernyataan tersebut mengejutkan pasar yang tengah tegang menantikan pertemuan tingkat tinggi G20 di Buenos Aires pada tanggal 30 November mendatang.

Baca Juga:   Dolar Diperdagangkan Di Posisi Terendah Karena Keraguan Rencana Pajak Trump, Euro Lebih Tinggi

Dalam pertemuan G20 tersebut, Trump dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan akan berjumpa untuk mendiskusikan masalah perdagangan.

“Pertemuan yang akan datang antara Trump dan Xi adalah penting (saat kita) memasuki akhir tahun dan bagi outlook pertumbuhan global, yang telah menampakkan tanda-tanda perlambatan,” ujar Lee Hardman, seorang analis mata uang di MUFG London. Lanjutnya, “Jika tak ada pencapaian, (maka) itu akan membuat tarif tambahan menjadi lebih mungkin diterapkan, dan itu meningkatkan risiko penurunan untuk perdagangan (global).”

Di sisi lain, Sterling juga merosot setelah Trump menyampaikan komentarnya mengenai Brexit dalam kesempatan terpisah. Menurut Trump, kesepakatan yang mengijinkan Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa, bisa jadi akan membuat hubungan perdagangan antara Washington dan London menjadi lebih sulit.

Sementara itu, Dolar AS kini memantau jadwal rilis data CB Consumer Confidence yang diperkirakan menurun dari 137.9 menjadi 135.9 pada bulan November, mengikuti tren perlambatan indikator ekonomi AS lainnya. Setelah itu, perhatian pasar akan beralih pada pidato Ketua Fed Jerome Powell pada hari Rabu besok dan rilis notulen FOMC pada hari Kamis, untuk mengetahui apakah Fed masih akan melanjutkan rencana kenaikan suku bunga di tengah maraknya indikasi perlambatan momentum pertumbuhan ekonomi.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply