Dolar AS Menguat, Pejabat Fed Tolak Titah Trump Untuk Pangkas Bunga

Bonus Welcome Deposit FBS

Indeks Dolar AS (DXY) melejit 0.15 persen ke kisaran 97.65 pada akhir sesi Eropa hari ini (15/5), setelah seorang pejabat Federal Reserve menepis himbauan Presiden AS Donald Trump agar bank sentral memangkas suku bunga dan meluncurkan stimulus moneter baru. Saat berita ditulis, EUR/USD telah melorot 0.2 persen ke kisaran 1.1180, sementara GBP/USD anjlok 0.4 persen ke level 1.2853.

Meski demikian, Yen tetap unggul versus Dolar AS. Pasalnya, penurunan data penjualan ritel AS kemungkinan mensinyalkan dampak perang dagang yang lebih besar di negeri Paman Sam.

Dolar AS Menguat

Pada hari Selasa, Presiden AS Donald Trump sempat menyampaikan himbauan agar Federal Reserve mengimbangi stimulus apapun yang akan diluncurkan oleh China untuk menanggulangi perlambatan ekonomi sebagai akibat dari konflik dagang antara kedua negara. Trump menilai, jika Fed memangkas suku bunga dan melakukan pembelian obligasi lagi sebagaimana dilakukan oleh bank sentral China, maka AS pasti menang dalam perang dagang.

Pelaku pasar mengabaikan himbauan tersebut karena dianggap kurang realistis. Presiden Fed wilayah Kansas City, Esther George, bahkan memeringatkan dalam pidatonya hari ini, “Suku bunga yang lebih rendah bisa mengakibatkan bubble harga aset, menciptakan ketidakseimbangan finansial, dan pada akhirnya sebuah resesi.”

Baca Juga:   BERITA SAHAM KAMIS 13/09/2018 - BEI CERMATI POLA TRANSAKSI SAHAM MAHAKA MEDIA

George juga melemparkan kembali tanggung jawab mengenai masalah ekonomi AS ke depan kepada Trump. Katanya, tanggung jawab atas risiko apapun terhadap perekonomian AS terletak pada “ketidakpastian kebijakan dagang dan pertumbuhan yang lebih lambat di luar negeri, khususnya di China, Kawasan Euro, dan Inggris.”

Sementara itu, data penjualan ritel AS dilaporkan menurun 0.2 persen (Month-over-Month) pada bulan April. Angka tersebut lebih rendah daripada kenaikan 1.7 persen pada periode sebelumnya, dan jauh meleset dari ekspektasi konsensus yang sebesar 0.2 persen. Penjualan ritel inti pun hanya mampu mencatat pertumbuhan 0.1 persen saja (Month-over-Month), gagal mencapai ekspektasi pada 0.7 persen.

Padahal, laporan tersebut bersumber dari periode ketika eskalasi konflik dagang AS-China belum seburuk sekarang. Kondisi ketenagakerjaan AS saat itu pun jauh lebih baik dibandingkan sejumlah laporan terkini. Kesenjangan tersebut memicu kekhawatiran pasar mengenai prospek belanja konsumen AS ke depan, setelah dihantam kenaikan tarif tambahan dari Washington dan Beijing.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply