Dolar AS Merosot Seiring Memburuknya Sentimen Konsumen AS

Bonus Welcome Deposit FBS

Indeks Dolar AS dibuka anjlok pada awal perdagangan sesi Asia hari Jumat ini (28/12) dan terus merosot ke level 96.45 saat ulasan ditulis. Kekhawatiran mengenai kondisi ekonomi AS mengemuka kembali pasca rilis data sentimen konsumen AS pada sesi New York kemarin, sedangkan konflik dagang antara AS-China juga menegang akibat rumor baru dari Washington.

Dolar AS Merosot Seiring Memburuknya Sentimen Konsumen AS

Kemarin, data CB Consumer Confidence dilaporkan anjlok dari 136.4 ke 128.1 dalam bulan Desember 2018, jauh lebih rendah dari ekspektasi awal yang dipatok pada 133.7. Angka tersebut juga merupakan indeks sentimen konsumen terburuk dalam lebih dari tiga tahun di Amerika Serikat.

Pelaku pasar merevisi proyeksi pertumbuhan AS tahun depan, karena kekhawatiran soal efek peningkatan suku bunga pada keuntungan korporasi dan aktivitas ekonomi masyarakat. James Knightley, pimpinan ekonom internasional ING, mengungkapkan, “Ada tekanan makin berat dihadapi oleh perekonomian AS pada tahun 2019, yaitu efek tertunda dari biaya pinjaman yang lebih tinggi, penguatan dolar, memudarnya dukungan stimulus fiskal, dan pelemahan permintaan eksternal, tepat keitka proteksionisme perdagangan meningkat. Faktor-faktor ini akan makin membebani sentimen pada 2019.”

Baca Juga:   Aussie Melemah, Kiwi Bertahan Di Akhir Perdagangan

Sementara itu, kantor berita Reuters melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan sebuah perintah eksekutif (executive order) untuk mengumumkan kondisi darurat nasional sebagai dasar guna melarang perusahaan-perusahaan AS menggunakan produk dari Huawei Technologies dan ZTE. Kedua perusahaan tersebut merupakan korporasi bidang teknologi top kebanggaan China.

“Menjelang akhir dari 90 hari moratorium tarif di ambang mata, pengumuman ini merupakan ganjalan lain dalam jalan menuju resolusi perdagangan (antara AS-China),” ujar Stephen Innes dari OANDA.

Konflik antara kedua negara merupakan salah satu penggerak sentimen risiko terbesar tahun ini. Pada ajang pertemuan G-20, Presiden Trump dan Presiden China Xi Jinping telah menyepakati “gencatan senjata” dalam bentuk dibatalkannya kenaikan tarif impor sementara serta dilanjutkannya negosiasi baru dalam hal perdagangan dalam kurun waktu 90 hari sejak awal tahun depan. Namun, pelaku pasar ragu kalau kedua belah pihak bisa menjembatani perbedaan pendapat mereka, karena pokok perkara sudah meluas jauh ke luar batas-batas topik perdagangan hingga mencakup pula masalah hak cipta dan kebijakan diplomatik.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply