Dolar AS Remuk Akibat Pesatnya Wabah Virus Corona

Afiliasi IB XM Broker

Penyebaran wabah virus Corona di luar China semakin pesat dan mendorong kepanikan yang kian meluas dalam pasar keuangan global. Situasi tersebut mengakibatkan bursa saham dunia bertumbangan, sementara indeks Dolar AS (DXY) jatuh ke kisaran 98.15. Semua pasangan mata uang mayor, kecuali Euro dan Yen Jepang, mencatat kinerja minus dalam perdagangan hari ini (28/2).

Dolar AS Remuk Akibat Pesatnya Wabah Virus Corona

Pada hari Kamis, pemerintah Italia mengumumkan kenaikan total infeksi virus Corona dari 400 menjadi 528. Padahal, pekan lalu belum ada kasus sama sekali di negeri yang beribukota di Roma tersebut. Beberapa negara anggota Uni Eropa lain juga melaporkan kemunculan kasus infeksi baru, termasuk Austria, Spanyol, Kroasia, dan Yunani. Kasus terduga COVID-19 juga muncul untuk pertama kalinya di negara bagian Claifornia, Amerika Serikat, pada hari Rabu.

“Perkiraan lebih banyak lagi: itulah pesan yang disampaikan oleh banyak pemerintah tentang wabah virus Corona. Ini meningkatkan kemungkinan penanggulangan lebih dini, membatasi penyebaran virus dalam skala besar, tetapi kelemahan dari pendekatan ini adalah akan berdampak terhadap perekonomian global seiring melambatnya bisnis dan belanja konsumen,” kata Jeroen Blokland dari Robeco.

Baca Juga:   Berita Saham WSBP RABU 28/02/2018

“Seiring dengan tumbangnya pasar saham AS dalam beberapa hari terakhir, demikian pula Dolar AS,” kata John Goldie dari Argentex, “Banyak bank dan analis teralihkan oleh data Jerman yang buruk dan manfaat yield Dolar yang lebih tinggi, menyarankan Euro lemah dan Dolar kuat berdasarkan asumsi tersebut. (Tapi) saya berpikir pandangan ini meremehkan dampak virus Corona yang, dalam jangka pendek, berpotensi mengakibatkan aksi jual Dolar secara berkelanjutan dalam beberapa pekan ke depan.”

Euro berhasil unggul versus USD karena perannya sebagai funding currrency dalam transaksi carry trade, seperti halnya Franc Swiss dan Yen Jepang. Dalam situasi krisis seperti ini, para trader akan melepas posisi carry trade mereka dengan menjual aset berbunga tinggi dan membeli aset berbunga rendah.

“Ketika pasar saham dilanda aksi jual, investor menutup posisi yang melibatkan penjualan USD (dan melemahkan mata uang ini), serta membeli kembali funding currency. Seperti halnya Swiss atau Yen, Euro juga telah menjadi funding currency pilihan selama beberapa tahun terakhir. Dengan suku bunga negatif, kecil sekali motivasi untuk hold Euro, tetapi ketika pasar saham ambruk dan carry trade dilikuidasi, arus uang kembali masuk ke Euro,” lanjut Goldie, “(Jadi) untuk jangka pendek, saya kira Euro akan terus meningkat -yang artinya kembali ke atas 1.10 pada EURUSD.”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply