Dolar AS Roboh Karena Inflasi Agustus Meleset

Bonus Welcome Deposit FBS

Indeks Dolar AS (DXY) langsung roboh pada perdagangan sesi New York hari Kamis ini (13/September), dalam hitungan menit setelah data inflasi konsumen dilaporkan meleset dari ekspektasi pasar. Saat berita ditulis, Indeks Dolar AS (DXY) merosot 0.17 persen ke level 94.64, padahal sempat menghijau pada sesi Asia dan Eropa.

Dolar AS Roboh Karena Inflasi Agustus Meleset

Dolar AS juga terpantau anjlok versus mayoritas mata uang mayor. Pasangan mata uang EUR/USD naik 0.40 persen ke 1.1672, GBP/USD meroket 0.30 persen ke 1.3085, dan AUD/USD melesat 0.70 persen ke level tertinggi sepekan di 0.7220. Dolar AS juga bertekuk lutut melawan Franc Swiss dan Dolar Kanada, dengan USD/CHF dan USD/CAD masing-masing naik 0.33 persen dan 0.10 persen. Dolar masih lebih kuat terhadap Yen, tetapi pasangan USD/JPY juga perlahan melandai.

Gejolak dahsyat tersebut timbul setelah US Bureau of Labor Statistics menyatakan bahwa Consumer Price Index (CPI) hanya naik 0.2 persen dalam bulan Agustus, alih-alin naik 0.3 persen sesuai ekspektasi pasar. Akibatnya, inflasi konsumen tahunan melorot dari 2.9 persen menjadi 2.7 persen.

Baca Juga:   Pound Naik Tinggi Ke 3-Minggu Vs Euro Sebagai Jobless Jatuh

Data Core CPI yang tak memperhitungan harga produk volatile makanan dan energi juga loyo. Core CPI hanya menanjak 0.1 persen dalam bulan Agustus, gagal mencapai kenaikan 0.2 persen seperti bulan Juli. Secara Year-on-Year, Core CPI pun mangkrak dengan laju 2.2 persen, padahal sebelumnya diharapkan tercatat stabil 2.4 persen.

Secara lebih terperinci, kemerosotan inflasi konsumen Amerika Serikat kali ini terutama disebabkan oleh perlambatan harga bahan bakar minyak (BBM) dan hunian, serta busana, listrik, dan layanan kesehatan. Harga otomotif seperti mobil, truk, dan kendaraan lainnya masih mengalami kenaikan; tetapi tak mampu mengimbangi perlambatan di kelompok produk lainnya.

Bank sentral AS (Federal Reserve) diharapkan akan menaikkan suku bunga dalam rapat kebijakan moneternya bulan ini, Namun, data-data inflasi konsumen dan produsen minggu ini memercikkan keraguan mengenai apakah kebijakan tersebut dapat diambil jika laju inflasi tak stabil. Sebagian pihak menilai Fed tetap akan menaikkan suku bunga asalkan acuan inflasi pilihannya (Core PCE Index) masih di atas target 2 persen. Namun, ada juga yang memandang ada sedikit kemungkinan kenaikan suku bunga bisa ditunda.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply