Dolar AS Tertekan Akibat Data CPI dan Rumor Negosiasi Dagang

Bonus Welcome Deposit FBS

Indeks Dolar AS (DXY) belum mampu beranjak dari kisaran 98.78 pada awal sesi New York hari ini (10/10). Dolar AS terpantau melemah terhadap semua mata uang mayor lain, kecuali Yen Jepang. Pasalnya, minat risiko pasar meningkat berkat rumor terbaru yang merebak dari meja negosiasi dagang AS-China, sedangkan outlook ekonomi AS malah melemah.

Dolar AS Tertekan Akibat Data CPI dan Rumor Negosiasi Dagang

Bloomberg melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump menginginkan sebuah perjanjian yang akan mewajibkan China menjaga nilai tukar Renminbi tetap stabil. Sebagai imbalannya, AS akan menunda kenaikan tarif impor dari 25 persen menjadi 30 persen yang sedianya akan diberlakukan terhadap USD250 Miliar produk asal China. Tanpa kesepakatan ini, kenaikan tarif akan diberlakukan mulai 15 Oktober mendatang, disusul dengan kenaikan tarif tambahan mulai 15 Desember.

Meski demikian, para analis cenderung pesimis terhadap prospek tercapainya kesepakatan antara kedua negara yang bersengketa. Kemarin, Bloomberg juga sempat mengabarkan kemungkinan disepakatinya sebuah perjanjian parsial. Namun, South China Morning Post dan Fox News yang sering dianggap sebagai wakil media de facto Beijing dan Washington malah meremehkan kabar tersebut.

Baca Juga:   Emas Melemah Meskipun Berita Yellen

“Kami terus berada pada ‘sisi skeptis’ dalam hal yang berkaitan dengan isu kesepakatan yang komprehensif; bahkan meskipun negosiasi AS/China tidak runtuh pada akhir pekan ini, masalahnya dengan berbagai isu yang dipertaruhkan terkait China (termasuk tentang mata uang) adalah penerapannya,” kata Stephen Gallo dari BMO Capital Markets.

Ia menambahkan, “Pergerakan harga USD pekan ini mengisyaratkan kebuntuan (negosiasi) AS/China, yang disampaikan kepada media sebagai sesuatu yang lebih positif daripada kebuntuan (yang sesungguhnya), sehingga bisa semakin membebani USD. Kami masih bersabar menunggu level yang lebih baik untuk membeli USD pada sebagian besar ujung akhir.”

Sementara itu, laporan CPI terbaru menunjukkan bahwa laju inflasi konsumen AS semakin menjauh dari target 2 persen yang ditentukan oleh bank sentral. Pertumbuhan inflasi konsumen hanya mencapai 0.1 persen (Month-over-Month) pada bulan September 2019, padahal sebelumnya diharapkan naik hingga 0.2 persen. Dalam basis tahunan, inflasi stagnan pada level 1.7 persen (Year-on-Year), alih-alih menanjak ke 1.8 persen sesuai estimasi pasar.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply