Dolar AS Tumbang Pasca Gencatan Perang Dagang AS-China

Bonus Welcome Deposit FBS

Dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang mayor lainnya pada awal sesi Eropa hari Senin ini (3/Desember), setelah Presiden AS Donald Trump setuju untuk menunda kenaikan tarif impor atas produk-produk China pada pertemuan G-20 kemarin. Indeks Dolar AS (DXY) merosot 0.40 persen ke level 96.81, sementara EUR/USD menanjak nyaris 0.50 persen ke kisaran 1.370 dan mata uang-mata uang komoditas meroket massal.

Dolar AS Tumbang Pasca Gencatan Perang Dagang AS-China

Dalam pertemuan antara kedua pemimpin negara di forum G-20, China dan AS sepakat melakukan “gencatan senjata” di tengah perang dagang yang telah mengguncang dunia sejak awal tahun ini. Trump setuju menunda kenaikan tarif impor atas USD200 Miliar produk China yang sedianya akan diberlakukan pada 1 Januari mendatang. Di sisi lain, Presiden China Xi Jinping berjanji akan meningkatkan pembelian China atas produk-produk Amerika Serikat. Selain itu, kedua negara akan kembali menggelar negosiasi baru dengan target mencapai kesepakatan dalam tempo 90 hari ke depan.

Minat risiko pasar bagi produk finansial yang berisiko lebih tinggi langsung meningkat, lantaran kabar tersebut. Mata uang-mata uang komoditas panen raya, sementara Safe Haven ditinggalkan pasar. Dolar Australia meroket nyaris 1 persen ke level 0.7375 terhadap Greenback, NZD/USD menguat 0.50 persen ke 0.6913, dan USD/CAD terperosok 0.74 persen ke level 1.3192.

Baca Juga:   Pound Dekat Tertinggi 8 Bulan VS Dolar Yang Lebih Lemah

“Kesepakatan perdagangan jelas positif bagi minat risiko pasar… Kami mengekspektasikan aksi beli Dolar (sebagai) Safe Haven untuk memudar dan mata uang-mata uang berisiko seperti Aussie dan Kiwi untuk menanjak lebih tinggi,” ujar Rodrigo Catril, pakar strategi mata uang senior di National Australian Bank (NAB), pada Reuters. Ia juga mencatat bahwa mata uang cross seperti Aussie/Yen dan Kiwi/Yen kemungkinan naik lebih tinggi, sejalan dengan reaksi pelaku pasar dalam menanggapi kesepakatan antara AS dan China.

Akan tetapi, sejumlah analis memperingatkan bahwa masih ada banyak masalah yang perlu dipecahkan, sehingga sentimen risiko positif seperti ini belum tentu berlanjut dalam jangka menengah.

Sue Trinh dari RBC Capital Markets mengungkapkan dalam sebuah catatan, “Banyak hal akan tergantung pada perkembangan dalam 90 hari ke depan. Namun, dikarenakan AS dan China memiliki pandangan berbeda, kami kita optimisme takkan berlanjut. Kami tetap berpendapat bahwa perang dagang perlu dibicarakan dalam kerangka siapa yang menanggung kerugian paling sedikit, dan menilai pertemuan G-20 sebagai kemenangan bagi AS.”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply