Dolar Aussie dan Kiwi Menguat Di Tengah Pelemahan Greenback

Bonus Welcome Deposit FBS

Pasangan mata uang AUD/USD naik 0.20 persen ke kisaran 0.7220 dan NZD/USD menanjak nyaris 0.50 persen ke sekitar 0.6887 pada awal perdagangan sesi Eropa hari ini. Namun, penggerak utamanya bukanlah data ekonomi dari masing-masing negara, melainkan karena pelemahan Dolar AS yang cukup tajam sehubungan dengan spekulasi akan dihentikannya kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve.

Kiwi Menguat Di Tengah Pelemahan Greenback

Investor dan trader memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga AS untuk tahun 2019, setelah data Nonfarm Payroll (NFP) dirilis lebih buruk dari ekspektasi dan terungkapnya serangkaian komentar dovish pejabat Fed pada hari Jumat. Sebelumnya, pasar sempat memperkirakan akan ada tiga kali kenaikan pada 2019, tetapi kini berubah menjadi kurang dari satu kali.

“Dolar AS di bawha bayang-bayang resolusi apapun (yang mungkin tercapai dengan China) dalam konflik perdagangan, bahasa Fed yang makin dovish, serta perlambatan pertumbuhan global. Rangkaian faktor-faktor ini telah menciptakan kekhawatiran di luar negeri,” ujar pimpinan ekonom Kiwi Bank, Jarrod Kerr, “Singkat kata, (pergerakan di pasar mata uang) ini berkaitan dengan USD.”

Baca Juga:   Outlook Mingguan GBP / USD : 24 - 28 Maret 2014

Selain itu, Dolar Australia juga didukung oleh komentar asisten gubernur RBA. Pekan lalu, investor mulai memunculkan spekulasi akan dilakukannya pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) tahun depan, karena pertumbuhan GDP kuartal III/2018 meleset dari ekspektasi. Namun, hari ini Asisten Gubernur RBA, Christopher Kent, menegaskan bahwa perubahan suku bunga berikutnya adalah ke atas (naik), sembari meremehkan signifikansi data satu kuartal lalu.

Ungkapan positifnya didukung pula oleh data Pinjaman Perumahan (Home Loans) Australia yang secara tak terduga meningkat 2.2 persen pada bulan Oktober, mencatat kenaikan terbesar sejak Juli 2017. Hal ini merupakan kabar baik bagi Dolar Australia, karena macetnya pinjaman domestik merupakan salah satu kekhawatiran pasar belakangan ini.

Terlepas dari itu, masih ada kekhawatiran mengenai imbas konflik perdagangan AS-China terhadap negara-negara yang pendapatannya terutama bersumber dari ekspor ke China, termasuk Australia dan New Zealand. Apalagi, data China yang dirilis hari Minggu kemarin menunjukkan Consumen Price Inflation (CPI) -0.3 persen pada bulan November, sehingga mendorong inflasi konsumen tahunan turun dari 2.5 persen menjadi 2.2 persen, menyiratkan pelemahan permintaan di negeri Tirai Bambu.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply