Dolar Australia Ambruk Setelah RBA Pangkas Proyeksi Inflasi

Bonus Welcome Deposit FBS

Dolar Australia ambruk sekitar 0.5 persen ke kisaran 0.6862 terhadap Dolar AS hingga pertengahan sesi London hari Jumat ini (8/11). Dua faktor utama memicu kemerosotan Aussie, yaitu diragukannya kesepakatan dagang AS-China fase-1 serta pemangkasan proyeksi inflasi Australia. Minat risiko pasar juga memburuk, sehingga mata uang komoditas lain ikut terseret jatuh.

Dolar Australia Ambruk Setelah RBA Pangkas Proyeksi Inflasi

Bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) memutuskan untuk memangkas proyeksi inflasi dan pertumbuhan upah karyawan nasional. Menurut RBA, laju inflasi tidak akan mencapai target antara 2-3 persen hingga tahun 2021. Pertumbuhan upah tahunan juga diperkirakan hanya mencapai 2.3 persen dalam periode yang sama, sementara tingkat pengangguran akan terus berada jauh dari target yang dipatok pada 4.5 persen.

Seiring dengan buruknya outlook perekonomian negeri Kanguru, suku bunga rendah dan depresiasi Dolar Australia bisa jadi merupakan harapan satu-satunya bagi RBA untuk menggairahkan perekonomian. Oleh karena itu, investor dan trader yakin bahwa RBA akan mempertahankan suku bunga pada kisaran terendah selama lebih dari satu tahun ke depan, walaupun kesepakatan dagang antara AS dan China benar-benar tercapai.

Baca Juga:   BERITA SAHAM SENIN 10/06/2019 - BUMI MELALUI UNIT USAHA ARUTMIN LAKUKAN KEGIATAN CSR DI TANAH LAUT, KALSEL

“RBA tidak puas tentang pelemahan AUD. Demi mempertahankan ikrar bahwa mereka ‘siap untuk melonggarkan kebijakan moneter longgar jika diperlukan’, Dewan Kebijakan RBA tentunya memikirkan mata uang. Ikrar ini juga memantik pertanyaan tentang ketahanan memudarnya spekulasi pemangkasan suku bunga. Westpac terus memperkirakan pemangkasan suku bunga hingga 0.5 persen pada bulan Februari 2020, pada momen ketika opsi kebijakan konvensional semestinya menjadi topik hangat lagi,” ujar Sean Callow, seorang pakar strategi di Westpac.

Sementara itu, mata uang-mata uang komoditas juga tertekan lantaran Peter Navarro, Penasehat Gedung Putih, membantah klaim Jubir Kementrian Perdagangan China tentang rencana pembatalan tarif impor dalam kerangka kesepakatan dagang fase-1. Ia mengatakan dalam sebuah wawancara TV bahwa Washington belum merencanakan pembatalan tarif impor atas produk-produk China.

Menanggapi pernyataan Navarro, reli aset-aset berisiko tinggi seperti Aussie pun langsung sirna. Aset-aset safe haven seperti Yen dan Gold belum mampu menguat kembali, tetapi laju pelemahan telah berkurang secara signifikan. Pelaku pasar akan terus memantau perkembangan terkait isu ini, karena seorang penasehat Gedung Putih lain justru mengonfirmasi adanya rencana pembatalan tarif impor AS.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply