Dolar Australia Anjlok Karena Inflasi Kuartal I/2019 Stagnan

Bonus Welcome Deposit FBS

Pasangan mata uang AUD/USD merosot sekitar 1 persen dalam perdagangan sesi Asia hari Rabu ini (24/4), setelah data inflasi Australia dilaporkan memburuk pada kuartal I/2019. Saat berita ditulis pada awal sesi Eropa, Aussie telah menanjak sedikit ke kisaran 0.7044, tetapi masih dekat level terendah sejak pertengahan Maret lalu. Lesunya inflasi memunculkan kembali ekspektasi pemangkasan suku bunga Australia dalam tahun ini.

Dolar Australia Anjlok Karena Inflasi Stagnan

Australian Bureau of Statistics (ABS) melaporkan bahwa pertumbuhan Consumer Price Index (CPI) tercatat 0.0 persen (Quarter-over-Quarter) untuk kuartal I/2019, bukannya meningkat 0.2 persen sesuai ekspektasi pasar. Laju inflasi konsumen tahunan juga melorot dari 1.8 persen menjadi 1.3 persen, lebih rendah dari estimasi awal yang sebesar 1.5 persen. Inflasi inti juga hanya meningkat 0.3 persen (Quarter-over-Quarter), lebih lambat dibandingkan laju 0.4 persen pada periode sebelumnya.

Diana Mousina, seorang ekonom dari AMP Capital, mengatakan, “Kami telah memperkirakan akan ada dua kali pemangkasan suku bunga sejak akhir Desember lalu, dan mengira kalau RBA akan menunggu hingg pemilu sebelum melakukan perubahan kebijakan. Namun, dengan inflasi yang lebih lemah dari ekspektasi, perkiraan dasar kami sekarang adalah pemangkasan suku bunga pertama akan terjadi bulan depan, karena RBA kemungkinan menyimpulkan risiko terlalu besar jika menunggu hingga pengangguran meningkat.”

Baca Juga:   5 Hal Penting Di Kalender Ekonomi Minggu Ini

Senada dengan Mousina, David Plank dari ANZ Bank juga menyatakan, “Kejutan lebih lemah pada inflasi inti kuartal pertama memberikan RBA sedikit pilihan selain memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada rapat bulan Mei, dan (pemangkasan) lagi kemungkinan terjadi pada Agustus. Inflasi inti yang lebih rendah dari ekspektasi mensinyalkan bahwa ada sesuatu yang harus diubah secara nyata agar RBA mampu merealisasikan target (inflasi) 2 persen secara kredibel.”

Patut dicatat bahwa data ABS menunjukkan peningkatan harga terbesar dialami oleh kategori produk minuman beralkohol dan tembakau yang biasanya naik karena peraturan pemerintah, bukan karena tingginya permintaan masyarakat. Sebaliknya, harga mengalami penurunan massal pada kelompok pakaian dan alas kaki, furnitur, perangkat rumah tanggal, serta layanan jasa. Sebelumnya, RBA telah menyatakan bahwa semuanya merupakan sektor yang paling mungkin jatuh jika tren penurunan harga perumahan Australia selama beberapa bulan terakhir mulai berdampak terhadap keyakinan rumah tangga konsumen.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply