Dolar Australia Dihimpit Stimulus China dan Buruknya Sentimen Konsumen

Bonus Welcome Deposit FBS

Dolar Australia bergerak sideways di kisaran 0.7205 pada awal perdagangan sesi Eropa hari Rabu (16/1), setelah bank sentral China mengumumkan telah menyuntikkan dana ke sistem keuangannya dalam rangka stimulus moneter. Aussie juga disangga oleh optimisme pelaku pasar setelah hasil voting Brexit di Parlemen Inggris ternyata sesuai ekspektasi. Namun, data sentimen konsumen dalam negeri justru menahan reli.

Dolar Australia Dihimpit Stimulus China dan Buruknya Sentimen Konsumen

Bank terbesar di benua Kanguru, Westpac, tadi pagi merilis data Consumer Sentiment yang anjlok jadi -4.7 persen dalam bulan Januari, turut drastis dari +0.1 persen pada bulan Desember. Angka tersebut merupakan bulanan terparah dalam tiga tahun terakhir dan mengindikasikan pesimisme masyarakat dalam memandang outlook perekonomian Australia.

Sejalan dengan sejumlah data ekonomi Australia yang mengecewakan sebelumnya, laporan ini memupuskan harapan akan kenaikan suku bunga Reserve Bank of Australia dalam tahun ini. Namun, konsekuensi tersebut nyaris tak digubris pelaku pasar karena adanya kabar mengenai stimulus China.

Memenuhi janji Pemerintah China untuk mengeluarkan paket stimulus moneter dan fiskal tambahan guna menanggulangi masalah perlambatan ekonomi, serangkaian kebijakan dirilis hari ini. People’s Bank of China telah menyuntikkan dana sebesar 560 miliar yuan (sekitar $82.73 miliar) melalui Reverse Repo untuk meningkatkan likuiditas perbankan.

Baca Juga:   GBP / USD Turun Di Laporan Output Industri AS Yang Optimis

Pihak berwenang mengungkapkan bahwa injeksi dana tersebut dimaksudkan untuk menanggulangi faktor-faktor musiman seperti pembayaran pajak dan peningkatan permintaan uang tunai menjelang imlek. Namun demikian, pelaku pasar keuangan menanggapi langkah tersebut sebagai tahap pertama dari paket stimulus China, yang kemungkinan akan diikuti oleh pemangkasan pajak senilai 2 Triliun Yuan dalam waktu dekat.

Kabar tersebut berdampak positif bagi Dolar Australia, karena China merupakan destinasi ekspor utama negeri Kanguru. Selain itu, Aussie juga didukung oleh naiknya minat risiko pasar setelah gelaran voting draft kesepakatan Brexit di Parlemen Inggris berakhir sesuai ekspektasi.

Proposal kesepakatan Brexit yang diajukan oleh PM Theresa May ditolak mentah-mentah oleh anggota parlemen. Namun, pelaku pasar sudah memperkirakan hasil tersebut, sehingga efeknya di pasar keuangan tak terlampau besar. Sejumlah analis bahkan menilainya sebagai sesuatu yang baik, karena Inggris bisa memperoleh waktu lebih banyak untuk mempertimbangkan ulang komitmen Brexit.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply