Dolar Australia Menguat Lagi Karena Inflasi Lampaui Ekspektasi

Bonus Welcome Deposit FBS

Dolar Australia melesat lebih dari 0.6 persen ke kisaran 0.7200 terhadap Dolar AS pada perdagangan hari Rabu ini (30/1), setelah data inflasi dirilis lebih tinggi dibandingkan ekspektasi awal. Aussie juga mengalami rebound dari level terendah sebulan terhadap Dolar New Zealand, dengan posisi AUD/NZD di kisaran 1.0526 menjelang akhir sesi Eropa.

Dolar Australia Menguat Lagi Karena Inflasi Lampaui Ekspektasi

Lembaga statistik resmi pemerintah, Australian Bureau of Statistics (ABS), mengungkapkan bahwa data Consumer Price Index (CPI) meningkat 0.5 persen (Quarter-over-Quarter) pada kuartal IV/2018. Sebelumnya, pelaku pasar mengestimasikan laju inflasi Australia pada periode tersebut hanya akan meningkat 0.4 persen, sama seperti kuartal sebelumnya.

Kenaikan inflasi kuartalan tersebut menanggulangi kemerosotan inflasi tahunan di negeri Kanguru. CPI (Year-on-Year) tercatat 1.8 persen. Angka aktual lebih rendah ketimbang capaian 1.9 persen pada periode sebelumnya, tetapi tak serendah ekspektasi yang dipatok pada 1.7 persen saja.

“Kontribusi terbesar datang dari kenaikan 9.4 persen pada harga tembakau dan kenaikan 6.2 persen pada tiket pesawat domestik. Sedikit mengimbanginya adalah kejatuhan harga bahan bakar minyak sebesar 2.5 persen,” ujar Jack Chambers, seorang ekonom di ANZ Bank.

Baca Juga:   Futures Eropa Naik, Saham Asia Jatuh karena Unjuk Rasa Emas

Rangkaian data-data ini mendorong penguatan Dolar Australia, karena stabilitas inflasi membuka kemungkinan akan diberlakukannya kebijakan moneter lebih ketat oleh bank sentral. Namun, masih ada kemungkinan Reserve Bank of Australia (RBA) tetap akan mempertahankan suku bunga saat ini, alih-alih menaikkannya sesuai harapan pasar, karena inflasi berada di bawah target 2 persen.

Chambers mengatakan, “Kami mengekspektasikan CPI untuk mirip (seperti sekarang) secara umum pada kuartal I/2019. Tantangannya bagi RBA adalah karena forecast November mereka membutuhkan akselerasi inflasi inti pada paruh pertama tahun 2019 untuk mencapai kenaikan inflasi inti sebesar 2 persen pada Juni 2019. Hal ini nampak sulit dikarenakan hilangnya momentum perekonomian pada paruh kedua tahun 2018.”

Senada dengan Chambers, Lee Sue Ann dari UOB Bank mengungkapkan, “Angka inflasi terbaru memperkuat pandangan kami bahwa suku bunga akan tetap berada pada rekor terendah untuk periode waktu yang lama… Pasar keuangan telah memperhitungkan (peluang suku bunga tetap) lebih besar bahkan ketimbang kemungkinan suku bunga acuan dipangkas pada akhir tahun.”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply