Dolar Australia Naik Tipis Pasca Rapat RBA Agustus 2019

Bonus Welcome Deposit FBS

Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir, bank sentral Australia (RBA) memutuskan untuk tak mengubah kebijakan moneternya. Namun, keputusan tersebut hanya mampu mendorong AUD/USD ke kisaran 0.6800 dalam perdagangan hari ini (6/8), sebelum tergelincir kembali ke kisaran o.6787. Eskalasi konflik AS-China masih menjadi sorotan utama pelaku pasar, sementara pernyataan RBA juga kental dengan nuansa dovish.

Dolar Australia Naik Tipis Pasca Rapat RBA

Tadi pagi, RBA mengumumkan akan mempertahankan suku bunga 1 persen untuk untuk sementara waktu hingga mereka mampu mengukur seberapa besar dampak pemangkasan suku bunga sebelumnya dalam mendongrak perekonomian Australia. Akan tetapi, mereka mengungkapkan kesiapan untuk memangkas suku bunga lagi, apabila kondisi ekonomi dalam beberapa waktu mendatang ternyata belum memenuhi ekspektasi.

Gubernur RBA, Philip Lowe, menyatakan, “Risiko pelemahan terus menerus terhadap perekonomian global dan lemahnya inflasi telah mengakibatkan beberapa bank sentral menurunkan suku bunga tahun ini, dan pelonggaran moneter lebih jauh diperkirakan akan terjadi… Cukup beralasan untuk mengharapkan bahwa periode suku bunga rendah yang lebih lama akan diperlukan di Australia untuk mencapai kemajuan dalam penurunan pengangguran dan pencapaian pertumbuhan yang lebih terjamin menuju target inflasi.”

Baca Juga:   Dolar Lebih Tinggi Terhadap Mata Uang Utama Lainnya Tapi Terlihat Terbatas

Lowe mencatat bahwa pertumbuhan gaji dan laju inflasi masih lamban hingga saat ini. Apabila keduanya masih lesu dari waktu ke waktu, maka pihaknya takkan ragu untuk melakukan pelonggaran moneter lagi.

Sejalan dengan pernyataan Lowe, pelaku pasar kini sepenuhnya memperhitungkan prospek pemangkasan suku bunga RBA sebesar 25 basis poin pada bulan November. Kebijakan itu kemungkinan akan disusul dengan satu kali pemotongan lagi pada bulan Mei 2020, sehingga suku bunga RBA akan mencapai 0.5 persen pada pertengahan tahun depan.

Sementara itu, investor dan trader juga memantau perkembangan eskalasi konflik antara AS dan China yang kini sudah menyinggung perkara perang mata uang. Pada hari Senin, China membiarkan nilai tukarnya jatuh ke rekor terendah dalam satu dekade versus Dolar AS. Washington membalasnya dengan melabeli China sebagai manipulator mata uang, sehingga pelaku pasar bertanya-tanya mengenai sanksi apalagi yang akan diluncurkan oleh Trump bagi Beijing.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply