Dolar Australia Tergelincir Gegara Data Inflasi Tahunan

Bonus Welcome Deposit FBS

Pasangan mata uang AUD/USD sempat merosot ke level 0.7072 pada sesi Asia perdagangan hari Rabu ini (31/Oktober), meski kembali beranjak ke harga pembukaan pada 0.7105 di pertengahan sesi Eropa. Pasalnya, data inflasi konsumen Australia mengecewakan, sementara data ekonomi China menunjukkan perlambatan signifikan.

Dolar Australia Tergelincir Gegara Data Inflasi Tahunan

Australian Bureau of Statistics (ABS) mengumumkan bahwa laju inflasi konsumen kembali mengecewakan pada kuartal III/2018. Pertumbuhan Consumer Price Index (CPI) hanya mencapai 0.4 persen (Quarter-over-Quarter), lebih rendah dibandingkan ekspektasi 0.5 persen, meskipun sama dengan laju pada periode sebelumnya. Inflasi tahunan bahkan menurun dari 2.1 persen menjadi 1.9 persen.

Lebih buruk lagi, Trimmed Mean CPI yang dianggap sebagai barometer penting karena tak menghitung harga barang-barang paling volatile, tercatat stagnan pada 1.8 persen. Padahal, sebelumnya para pakar mengharapkan indeks ini akan naik jadi 1.9 persen.

Komponen biaya liburan, akomodasi, harga tembakau, dan BBM, mengalami peningkatan. Namun, laju inflasi tetap lesu karena peningkatan tersebut digagalkan oleh anjloknya biaya Childcare hingga dua digit.

Baca Juga:   Euro Anjlok Karena Perang Dagang Dorong Minat Beli Dolar

“Bisa dikatakan bahwa penurunan yang lebih penting bagi pasar adalah pada rerata inti (Weighted Mean CPI) yang berada pada 1.7 persen (padahal konsensus mengekspektasikan 1.9 persen). Ini adalah laju tahunan terendah dalam enam kuartal. Walaupun demikian, dari perspektif kebijakan, ini sejalan dengan perkiraan RBA (bank sentral Australia),” ujar Gareth Aird, seorang ekonom di Commonwealth Bank of Australia.

Sebagaimana diketahui, RBA mematok target inflasi pada kisaran 2-3 persen. Namun, RBA juga sudah memproyeksikan kalau inflasi akan gagal mencapai target pada bulan-bulan menjelang akhir tahun 2018.

Inflasi Australia seringkali jatuh ke bawah target 2-3 persen selama empat tahun terakhir. Selaras dengan kondisi tersebut, RBA telah mempertahankan suku bunga pada rekor terendah 1.5 persen dalam dua tahun terakhir. Selain karena inflasi yang lemah, RBA juga beralasan bahwa sektor rumah tangga dibebani oleh penumpukan utang dan bakal sulit menghadapi biaya pinjaman lebih tinggi.

Sementara itu, Purchasing Managers’ Index (PMI) untuk sektor manufaktur China jatuh dari 50.8 ke 50.2 pada bulan Oktober; level terendahnya dalam lebih dari dua tahun. Penyebabnya adalah permintaan luar negeri yang lebih lemah sebagai imbas penerapan tarif impor oleh Presiden AS Donald Trump. Kabar ini turut menekan AUD sebagai mata uang proxy China yang diperdagangkan bebas di pasar uang internasional.

Baca Juga:   BERITA SAHAM SELASA 03/09/2019 - HINDARI KONTROVERSI, PERUSAHAAN PAKAIAN ZARA DUKUNG KEDAULATAN CHINA

“Selama tak ada solusi dalam konflik perdagangan AS-China dan tak ada kenaikan pesat dalam inflasi Australia, RBA akan terus menunda kenaikan suku bunga dan mempertahankan pendekatan netralnya. Akibatnya, AUD kekurangan basis apapun untuk menguat terhadap USD,” ungkap Antje Praefcke, seorang analis di bank investasi kawakan Commerzbank.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply