Dolar Australia Terperosok Akibat Buruknya Data Industri China

Bonus Welcome Deposit FBS

Dolar Australia sempat terperosok lagi sekitar 0.7 persen ke kisaran 0.6750-an lagi terhadap Dolar AS dalam perdagangan hari ini (14/8), walaupun sempat melonjak pada sesi sebelumnya. Pertumbuhan gaji kuartalan di negeri Kanguru melampaui estimasi awal, tetapi masih stagnan dalam statistik tahunan. Pelaku pasar juga cenderung melepas aset-aset berisiko lebih tinggi seperti Aussie, karena data produksi industri China memantik kekhawatiran lebih lanjut mengenai pertumbuhan ekonomi global dan efek perang dagang.

Dolar Australia Terperosok Akibat Buruknya Data Industri China

Australian Bureau of Statistics (ABS) melaporkan bahwa pertumbuhan gaji karyawan meningkat 0.6 persen (Quarter-over-Quarter) selama kuartal II/2019, lebih tinggi dari estimasi yang hanya 0.5 persen. Pencapaian ini hanya mampu membuat laju pertumbuhan gaji tahunan stagnan pada level 3.6 persen, sehingga dianggap belum memudarkan kekhawatiran bank sentral Australia (RBA) mengenai kondisi pasar tenaga kerja.

“Pertumbuhan gaji yang terus-menerus lemah dan persaingan yang ketat kemungkinan akan membuat pertumbuhan harga-harga sektor pasar terbatas, sementara perumahan (komponen besar dalam CPI) diperkirakan tetap lemah. Konsekuensinya, kami memperkirakan pelonggaran moneter lebih lanjut,” kata Alan Oster, pimpinan ekonom di National Australia Bank (NAB), “Kami memperkirakan pemangkasan suku bunga lagi pada bulan November ke rekor terendah baru pada 0.75 persen, tetapi tak mengecualikan risiko pemangkasan lebih besar atau peluncuran kebijakan yang tidak konvensional.”

Baca Juga:   BERITA SAHAM 17/07/2018 - SELAMAT SEMPURNA DAPAT DIVIDEN DARI ANAK USAHA DI MALAYSIA

Laporan produksi industri China yang mengecewakan juga meningkatkan kerisauan pelaku pasar, karena negeri Panda merupakan destinasi ekspor komoditas utama Australia. Perdagangan Australia-China mendasari sebagian besar kekuatan nilai tukar Dolar Australia.

Produksi industri China dilaporkan hanya tumbuh 4.8 persen (Year-on-Year) pada bulan Juli 2019, jatuh dari pertumbuhan 6.3 persen yang dicapai pada periode sebelumnya. Padahal, pelaku pasar sebelumnya hanya memperkirakan koreksi menjadi 6 persen saja. Penjualan ritel China bahkan terpuruk lebih dalam lagi, dengan pertumbuhan tahunan anjlok dari 9.8 persen menjadi 7.6 persen.

“(Data-data) itu sangat lemah berdasarkan standar China dan menggarisbawahi bahwa meski kenaikan tarif ditunda (oleh AS), perekonomian China masih mengalami kesulitan nyata,” kata Michael Every dari Rabobank Hong Kong.

Berikutnya, investor dan trader akan memantau laporan ketenagakerjaan Australia yang akan dirilis besok pagi. Apabila data aktual lebih baik daripada ekspektasi, maka Aussie akan mendapat peluang untuk rebound, meskipun area reli bisa jadi terbatas sebagai akibat dari terus berlanjutnya konflik dagang AS-China.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply