Dolar Australia Tertekan, Diseret Oleh Sektor Perumahan

Bonus Welcome Deposit FBS

Dolar Australia berupaya untuk rebound pada perdagangan hari Kamis ini (28/2), tetapi pasangan mata uang AUD/USD masih diperdagangkan dekat level terendah tiga hari pada kisaran 0.7145. Sebuah laporan Nikkei mensinyalir kalau pelemahan Aussie berhubungan dengan jatuhnya harga perumahan Australia, dikarenakan banyaknya investor China yang menarik diri dari pasar properti setempat; hal mana juga memicu bank sentral Australia untuk membuka kemungkinan pemangkasan suku bunga.

Dolar Australia Tertekan, Diseret Oleh Sektor Perumahan

Per akhir Januari 2019, harga perubahan telah anjlok 9.7 persen di Sydney dan 8.3 persen di Melbourne. Fenomena ini menyeret harga perumahan rata-rata di delapan kota terbesar Australia turun hingga 6.9 persen. Penyebab utamanya adalah kemerosotan investasi China, lantaran pengetatan kebijakan oleh Beijing dan perlambatan ekonomi di negeri Panda. Di sisi lain, sejumlah skandal keuangan telah memaksa perbankan Australia untuk memperketat persyaratan penyaluran pinjaman, sehingga jumlah pembelian rumah baru pun berkurang.

Pasar properti merupakan salah satu mesin penggerak utama perekonomian Australia. Oleh karenanya, kejatuhan harga-harga perumahan menjadi sorotan tersendiri bagi para pengambil kebijakan maupun pelaku pasar.

Baca Juga:   Outlook FOREX Mingguan : 27 februari - 03 Maret 2017

Beberapa indikator ekonomi lain juga mensinyalkan perlambatan ekonomi Australia yang bisa jadi lebih buruk dibandingkan perkiraan sebelumnya. Belanja konsumen Australia tumbang. Salah satu tandanya, penjualan mobil baru pada tahun 2018 mengalami penurunan tahunan untuk pertama kalinya dalam empat tahun terakhir.

“Hasil penjualan kendaraan baru pada tahun 2018 mencerminkan iklim yang menantang dalam perekonomian Australia, termasuk perlambatan pasar perumahan, pengetatan penyaluran pinjaman, serta kekeringan,” kata Tony Weber, pimpinan eksekutif Federal Chamber of Automotive Industries, kepada Nikkei.

Selain itu, ada pula kekhawatiran mengenai sektor ekspor Australia yang sekitar 30 persennya dikirim ke China. Perlambatan ekonomi China akibat perang dagang dengan Amerika Serikat telah mengakibatkan harga sejumlah komoditas ekspor utama mengalami stagnasi, khususnya bijih besi.

Padahal, perundingan perdagangan antara China dan AS belum menampakkan kemajuan konkrit yang cukup signifikan hingga saat ini. Dalam testimoni di hadapan Kongres AS kemarin, Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer memaparkan bahwa sekarang masih terlalu dini untuk memperkirakan hasil dari perundingan tersebut.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply