Dolar Australia Tumbang Pasca Rilis Notulen Rapat RBA

Bonus Welcome Deposit FBS

Pada awal sesi Asia hari ini (16/4), Dolar Australia anjlok sekitar 0.4 persen dari level tertinggi sebulan ke kisaran 0.7140 terhadap Dolar AS. Aussie juga melemah terhadap Kiwi, dengan posisi AUD/NZD menurun 0.15 persen ke level 1.0588. Koreksi Dolar Australia kali ini diakibatkan oleh rilis notulen rapat kebijakan bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) yang menegaskan kembali besarnya probabilitas pemangkasan suku bunga.

Dolar Australia Tumbang Pasca Rilis Notulen Rapat RBA

Dalam rapat terakhirnya, RBA telah memutuskan untuk mempertahankan suku bunga (Official Cash Rate/OCR) tetap pada level 1.50 persen untuk bulan ke-32 beruntun, sembari memberikan sinyal bahwa rencana perubahan kebijakan mereka berikutnya adalah pemangkasan suku bunga. Notulen yang baru saja dirilis kembali menggarisbawahi berbagai alasan yang mendasari keputusan tersebut.

Secara eksplisit, notulen memaparkan bahwa para pejabat RBA meyakini pemangkasan suku bunga layak dilakukan apabila inflasi tetap rendah dan tingkat pengangguran meningkat. Selain itu, dikarenakan inflasi lesu maka kenaikan suku bunga dalam jangka pendek tidaklah memungkinkan.

David Cottle dari DailyFX mengungkapkan, “Pada grafik Daily, Aussie tetap berada di atas tren naik panjang yang telah bertahan sepanjang tahun 2018; meski suku bunga AS naik, sementara (suku bunga) Australia tak mengalami perubahan. Minat risiko global yang tangguh telah mendongkrak nilai mata uang Australia. Namun, notulen membuat perhatian pasar kembali ke (fakta) akan amat minimnya dukungan kebijakan moneter domestik (bagi apresiasi AUD).”

Baca Juga:   Pemerintah Swiss Memotong Perkiraan Pertumbuhan PDB Untuk 2018, 2019

Beberapa rilis data ekonomi domestik dan internasional akan kembali memengaruhi pergerakan AUD/USD dalam beberapa hari ke depan. Antara lain rilis data Gross Domestic Product (GDP) China pada hari Rabu dan data ketenagakerjaan Australia pada hari Kamis. Dolar Australia dapat dipengaruhi oleh rilis data GDP China, karena negeri yang beribukota di Beijing tersebut merupakan destinasi ekspor utama negeri Kanguru. Peningkatan yang melampaui ekspektasi bisa mendongkrak AUD/USD kembali secara signifikan.

Sedangkan mengenai relevansi data ketenagakerjaan Australia, menurut Cottle, “Perekonomian Australia telah sangat perkasa dalam penciptaan lapangan kerja beberapa tahun belakangan, tetapi nada notulen (RBA kali ini) mengindikasikan bahwa RBA khawatir kalau kekuatan itu akan memudar.”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply