Dolar Australia Tumbang Setelah Rilis Notulen Rapat RBA Februari 2019

Bonus Welcome Deposit FBS

Pada pertengahan sesi Eropa hari ini (19/2), Dolar Australia telah mencatat penurunan sekitar 0.23 persen dalam perdagangan intraday ke kisaran 0.7113 terhadap Dolar AS. Aussie masih menguat versus Dolar Kiwi. Namun, pelaku pasar gentar akibat rilis notulen rapat bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia). Pasalnya, meski RBA mengutarakan keinginan untuk mempertahankan suku bunga, tetapi mereka juga menekankan besarnya peningkatan ketidakpastian dalam outlook ekonomi.

Dolar Australia Tumbang Setelah Rilis Notulen RBA

Dalam notulen rapat tanggal 5 Februari yang baru dirilis tadi pagi, para pejabat RBA merubah outlook perubahan suku bunga menjadi “lebih seimbang daripada sebelumnya”. Selain itu, RBA juga menyatakan telah menyaksikan “ketidakpastian signifikan” dalam outlook ekonomi, sehingga menekankan pentingnya bank sentral mempertahankan stabilitas kebijakan moneter.

Bank sentral Australia mempertahankan pendapat bahwa perubahan suku bunga berikutnya bisa naik maupun turun, dan probabilitas keduanya lebih seimbang daripada sebelumnya. Secara eksplisit, mereka juga menegaskan tidak adanya alasan kuat untuk merubah suku bunga dalam jangka pendek. Kebijakan yang ada saat ini masih diharapkan akan mendukung pertumbuhan inflasi dan kemajuan sektor ketenagakerjaan.

Baca Juga:   Berita Saham GMFI SENIN 26/02/2018

Meski demikian, para pejabat bank sentral menyatakan pula akan terus “memantau outlook secara hati-hati”. Dewan pengambil kebijakan RBA membahas sektor perumahan secara khusus dan panjang lebar, karena harga properti telah jatuh sangat jauh dari standar harga historis.

Dikarenakan kenaikan harga di masa lalu yang sudah cukup tinggi, maka kejatuhan harga properti saat ini semestinya hanya berdampak sedikit terhadap perekonomian Australia. Namun, menurut RBA, “jika harga jatuh lebih jauh” maka dapat melemahkan konsumsi agregat dan Gross Domestic Product (GDP). Outlook konsumsi masyarakat ini merupakan salah satu pokok ketidakpastian bagi kebijakan moneter saat ini.

Di sisi lain, RBA juga mencatat kembali peningkatan risiko perlambatan ekonomi global sebagai salah satu ancaman bagi pereokonomian domestik. Menurut mereka, ada sinyal kalau pertumbuhan ekonomi China telah melambat lebih jauh ketimbang yang nampak pada data GDP. Sementara itu, ketegangan soal perdagangan internasional juga masih menjadi risiko nyata terhadap outlook ekonomi global.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply