Dolar Batal Rebound Karena Pemulihan Minat Risiko Pasar

Bonus Welcome Deposit FBS

Dolar AS sempat beranjak dari level terendah satu bulan pada perdagangan hari Rabu kemarin, tetapi berbalik turun lagi. Hingga sesi Eropa hari Kamis ini (30/Agustus), Indeks Dolar AS (DXY) masih tertahan pada level terendah satu bulan dekat kisaran 94.60.

Dolar Batal Rebound Karena Pemulihan Minat Risiko Pasar

Kabar kenaikan pertumbuhan Gross Domestic Product (GDP) AS kuartal II/2018 setinggi 4.2 persen (QoQ) dikaburkan oleh berita penurunan Pending Home Sales hingga -0.7 persen (MoM) dalam bulan Juli. Kombinasi kedua data tersebut dianggap menghasilkan profil fundamental ekonomi AS yang kurang bullish, walaupun belum sampai memasuki tahap bearish.

Sementara itu, perwakilan Amerika Serikat dan Kanada mengekspresikan optimisme mereka bahwa renegosiasi North America Free Trade Area (NAFTA) akan mencapai mufakat pada hari Jumat mendatang, meskipun masih ada sejumlah masalah pelik.

“Walaupun (pergerakan harga) volatile di Asia, minat risiko pada mata uang secara umum membaik, karena kekhawatiran mengenai perang dagang nampak berkurang. Hal ini semestinya mendorong Dolar menurun,” ungkap Manuel Oliveri, seorang pakar strategi di Credit Agricole London, sebagaimana dikutip oleh Reuters.

Baca Juga:   NZD / USD Menyentuh Posisi Terendah 2 Bulan Hati-Hati Dalam Perdagangan

Sebelumnya, Dolar AS sempat mencuat beberapa kali ketika konflik dagang dipicu oleh Presiden AS Donald Trump. Pasalnya, ketika semua pihak sama-sama menerapkan bea impor tinggi, perekonomian Amerika Serikat diperkirakan menanggung risiko lebih ringan ketimbang China, Kanada, atau Meksiko.

Diantara mata uang-mata uang mayor, Poundsterling mengalami kenaikan paling tinggi versus Dolar AS. Reli pesat dicapai GBP/USD hingga kisaran 1.3015, setelah pimpinan delegasi Uni Eropa untuk negosiasi Brexit, Michel Barnier, mengatakan siap menawarkan “hubungan perdagangan yang sangat dekat” bagi Inggris.

Pasangan mata uang mayor lainnya, EUR/USD, berhasil mempertahankan posisi di kisaran 1.1695 berkat pelemahan Dolar AS, meski ada keresahan mengenai kondisi defisit anggaran publik Italia.

“Seiring pergeseran fokus investor ke negosiasi NAFTA dan Brexit, Dolar tidak mendapatkan banyak penguatan dari mata uang-mata uang negara berkembang yang melemah,” ungkap Tohru Sasaki, pimpinan riset pasar di JPMorgan Chase Bank, Tokyo. Hal ini turut berpengaruh pada pergerakan mata uang-mata uang mayor juga, karena imbas posisi relatif Dolar AS sebagai mata uang terbesar di dunia yang digunakan dalam sebagian besar transaksi keuangan lintas negara.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply