Dolar Melonjak Setelah Penjualan Ritel AS Lampaui Ekspektasi

Bonus Welcome Deposit FBS

Indeks Dolar AS (DXY) meroket lebuh dari 0.4 persen ke kisaran 97.36 pada pertengahan sesi New York hari Selasa ini (16/7), setelah rilis data penjualan ritel Amerika Serikat. Kenaikan penjualan ritel secara tak terduga membuat pelaku pasar mengendalikan spekulasi mengenai rencana pemangkasan suku bunga Federal Reserve. Selaras dengan itu, Greenback menguat terhadap sebagian mata uang mayor. USD/JPY naik 0.35 persen ke level 108.28, sementara EUR/USD terpuruk 0.37 persen ke kisaran 1.1216 karena data ekonomi Jerman yang mengecewakan.

Dolar Melonjak Setelah Penjualan Ritel AS Lampaui Ekspektasi

Departemen Perdagangan AS melaporkan bahwa penjualan ritel mengalami kenaikan 0.4 persen (Month-over-Month) pada bulan Juni 2019, lebih tinggi daripada estimasi awal yang hanya 0.1 persen. Kenaikan tersebut khususnya berkat pertambahan aktivitas pembelian kendaraan bermotor dan beragam produk lain. Sementara itu, penjualan ritel yang tak memperhitungkan otomotif, gas, bahan bangunan, dan restoran (Retail Sales Ex. Gas/Autos) justru melonjak 0.7 persen dalam periode yang sama. Penjualan ritel inti (Core Retail Sales) juga menanjak 0.4 persen.

Baca Juga:   BANK PAN INDONESIA RAIH LABA Rp667,16 MILIAR HINGGA MARET. IQPlus, (25/04) - PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN) meraih laba sebesar Rp667,16 miliar hingga 31 Maret 2018 turun dibandingkan laba Rp724,70 miliar di periode sama tahun sebelumnya. Laporan keuangan perseroan menyebutkan, pendapatan bunga tercatat Rp4,28 triliun sama dengan pendapatan bunga tahun sebelumnya yang juga Rp4,28 triliun dan beban bunga tercatat Rp2,11 triliun turun dari beban bunga tahun sebelumnya yang Rp2,19 triliun. Pendapatan operasional lainnya turun menjadi Rp259,79 miliar dari Rp361,91 miliar dan beban operasional lainnya naik jadi Rp768,74 miliar dari Rp722,87 miliar dan laba operasional turun menjadi Rp907,22 miliar dari laba operasional tahun sebelumnya yang Rp958,59 miliar. Laba sebelum pajak turun menjadi Rp934,92 miliar dibandingkan laba sebelum pajak tahun sebelumnya yang Rp1,00 triliun. Jumlah aset mencapai Rp214,54 triliun hingga 31 Maret 2018 naik dari jumlah aset Rp213,54 triliun hingga 31 Desember 2017.

Peningkatan dari sektor ritel AS pada bulan Juni ini senada dengan kenaikan solid pada dua bulan sebelumnya. Karenanya, pelaku pasar menganggapnya sebagai sinyal akselerasi belanja konsumen pada kuartal II/2019, menepis pertumbuhan lambat pada kuartal pertama. Pengetatan pasar tenaga kerja kemungkinan menopang belanja konsumen dan pertumbuhan ekonomi AS di tengah melambatnya investasi bisnis, perang dagang AS-China, dan melemahnya pertumbuhan ekonomi global.

Seusai rilis data ini, investor dan trader masih meyakini bahwa bank sentral AS (Federal Reserve) akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin dalam rapat tanggal 30-31 Juli mendatang untuk menanggulangi perlambatan ekonomi. Namun, data mengonfirmasi bahwa Fed tak akan memangkas suku bunga hingga 50 basis poin sebagaimana sempat dikhawatirkan oleh pelaku pasar pasca testimoni Ketua Fed pekan lalu.

Rilis forecast Gross Domestic Product (GDP) terbaru dari kantor Federal Reserve wilayah Atlanta mematok proyeksi kenaikan GDP AS sebesar 1.4 persen pada kuartal II/2019, setelah mencetak kenaikan 3.1 persen pada kuartal pertama. Laju ekspansi ekonomi melambat karena mulai memudarnya efek stimulus fiskal dari pemangkasan pajak dan belanja pemerintah yang diluncurkan pada awal pemerintahan Presiden Donald Trump.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply