Dolar Menguat Jelang Dimulainya Lagi Negosiasi AS-China

Bonus Welcome Deposit FBS

Indeks Dolar AS (DXY) mendaki ke level tertinggi dua pekan di atas ambang 98.10 dalam perdagangan hari ini (29/7). Greenback mempertahankan keunggulannya versus sebagian besar mata uang mayor, meskipun bank sentral AS diperkirakan hanya akan memangkas suku bunga satu kali saja dalam tahun ini. Pelaku pasar cenderung menghindari aset-aset berisiko di tengah kesangsian terhadap stabilitas politik Inggris serta antisipasi menjelang dimulainya kembalinya negosiasi AS-China.

Dolar Menguat Jelang Dimulainya Lagi Negosiasi AS-China

Laporan GDP Amerika Serikat pekan lalu menunjukkan kinerja lebih baik dari ekspektasi. Selaras dengan itu, pelaku pasar mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed. Dalam rapatnya pekan ini, Federal Reserve diperkirakan hanya akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin saja, alih-alih 50 basis poin sebagaimana sempat dirumorkan sebelumnya. Spekulasi berikutnya berkisar antara apakah Fed akan memberikan isyarat pemangkasan tambahan atau tidak.

“Apa yang disoroti semua orang sekarang adalah apakah AS akan memasuki siklus pemangkasan suku bunga sepenuhnya. Angka GDP agak lebih kuat dibandingkan ekspektasi, (sehingga) mengurangi pandangan mengenai masuknya AS dalam siklus pelonggaran moneter panjang,” kata Kyosuke Suzuki, direktur forex di Societe Generale.

Baca Juga:   Keuntungan Harga Emas, Perdagangan Mendekat Tinggi 6 Bulan

Sementara itu, jadwal negosiasi dagang AS-China juga jadi pusat perbincangan. Menteri Keuangan AS Steve Mnuchin dan Wakil Dagang AS Robert Lighthizer akan berjumpa dengan Wakil PM China Liu He untuk memulai kembali perundingan di Shanghai pada hari Selasa. Ini merupakan pertemuan tatap muka pertama sejak Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping mencapai “gencatan senjata” dalam ajang G20. Namun, kedua belah pihak masih memiliki banyak perbedaan pendapat, sehingga ekspektasi untuk pencapaian kesepakatan cenderung minim.

Dari seberang samudera, Inggris tenggelam dalam krisis politik baru. Sejumlah menteri menyampaikan bahwa PM Boris Johnson memerintahkan mereka untuk membuat beragam perencanaan dengan asumsi “No-Deal Brexit akan terjadi pada tanggal 31 Oktober mendatang. Hal ini menimbulkan kekhawatiran kalau Inggris akan menghadapi pemilu dini karena kuatnya penolakan parlemen terhadap prospek No-Deal Brexit. Akibatnya, Poundsterling merosot drastis ke level terendah sejak 2017 versus Dolar AS.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply